SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Kampung Budaya Betawi Sukapura di Jakarta Utara menghadirkan wajah berbeda pelestarian budaya Betawi. Kawasan ini tidak dikembangkan sebagai destinasi wisata formal seperti Setu Babakan atau sekadar etalase budaya, melainkan tumbuh dari kehidupan warga yang mempertahankan tradisi secara alami.
Di tengah lingkungan yang heterogen, identitas Betawi di Sukapura tetap terjaga. Aktivitas budaya berlangsung sebagai bagian dari keseharian, bukan pertunjukan. Kelompok Gambang Kromong misalnya, melibatkan perempuan sebagai pemain aktif. Tradisi ini terus berjalan tanpa dikemas khusus untuk wisata.
Kelompok gambang kromong perempuan yang penulis temui didominasi kaum ibu yang tetap rutin berlatih meski sibuk sebagai ibu rumah tangga.
“Ya latihan dong, masa ngurusin laki mulu sama anak-anak. Anak sudah pada gede, kita juga kan butuh hiburan,” ucap Sri, vokalis gambang kromong, saat ditemui belum lama ini.
Di samping itu, para personel juga masih menjaga nilai-nilai spiritual. Musik gambang kromong disebut memiliki simbol energi positif dari setiap suara yang dihasilkan untuk menetralisir energi negatif secara metafisika dan menyambungkan energi positif.
“Tuh kromong sama gendang, ada isinya itu. Coba saja pukul, kalau kelamaan tangan pasti sakit,” ujar personel lainnya berseloroh.
Kegiatan lain juga berlangsung rutin. Warga mengembangkan batik bermotif khas Betawi, menggelar latihan Pencak Silat, serta mengadakan majelis taklim. Pendiri Kampung Budaya Betawi Sukapura dan sejumlah warga berasal dari anggota Forum Betawi Rempug (FBR).
Penguatan identitas budaya terlihat dari peluncuran Batik Sukapura di Cilincing pada 2025. Ketua Yayasan Kampung Budaya Betawi Sukapura dan sekaligus Ketua Koordinator Wilayah FBR Jakarta Utara, Yusriah Dzinnun, menyebut batik ini dikembangkan sebagai identitas sekaligus peluang ekonomi bagi warga, terutama ibu-ibu pengrajin.
Batik Sukapura memiliki sejumlah motif, antara lain “Sayur Asem” dan “Ayam-Ayaman”. Motif terakhir mencerminkan kondisi Jakarta Utara pada masa lalu yang didominasi rawa dan hutan mangrove.
Kawasan tersebut menjadi habitat burung air seperti bangau dan ayam-ayaman. Motif ayam-ayaman merepresentasikan hubungan masyarakat Betawi dengan lingkungan pesisir serta memuat narasi sejarah ekologis wilayah.
Dahulu, masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan makan dapat dengan mudah mendapatkan burung ayam-ayaman, bangau, merpati, hingga entok dan bebek.
“Makanya di Utara itu ada kuliner khas Betawi yang namanya oblok yang menggunakan bebek dan mentok,” ucap Yusriah.
Lebih lanjut, ia menuturkan tantangan pelestarian budaya semakin besar akibat pengaruh globalisasi dan minimnya ketertarikan generasi muda.
“Kita harus memanfaatkan media sosial untuk menjangkau generasi muda,” katanya. Ia menegaskan, budaya Betawi merupakan identitas yang harus dijaga.
“Kalau budaya ini punah, kita kehilangan jati diri sebagai warga Jakarta,” tegasnya.
Berbagai kegiatan rutin dilakukan di Kampung Budaya Betawi Sukapura, seperti bazar kuliner dan pelatihan seni, termasuk gambang kromong. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan sekolah untuk mengenalkan budaya Betawi sejak dini.
Yusriah menambahkan, pelestarian budaya juga melibatkan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan kolaboratif.
“Budaya akan tetap hidup jika dijalankan bersama oleh masyarakat,” tandasnya.
Aktivitas budaya Betawi di Kampung Budaya Betawi Sukapura sejatinya telah berlangsung turun-temurun. Namun, kawasan ini baru diakui secara resmi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2025 sebagai Kampung Budaya Betawi. ***
Komentar
Posting Komentar