Oleh : KH Lutfi Hakim
SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug. Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/4/2026) mendatang. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarwarga Jakarta lewat seni, tradisi, dan cita rasa.
Pilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi acara sangat tepat karena memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna. Pada masa kolonial Belanda, lapangan tersebut dikenal sebagai _Waterlooplein_ (Lapangan Waterloo) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 untuk memperingati kemenangan Belanda atas Napoleon di Waterloo pada 1815.
Pada 1828, Belanda mendirikan tugu patung singa di tengahnya sebagai simbol kemenangan tersebut, sehingga tempat itu populer disebut Lapangan Singa.
Pada masa kemerdekaan, Presiden Soekarno mengubah namanya menjadi Lapangan Banteng. Ikon utamanya kini adalah Monumen Pembebasan Irian Barat yang diresmikan pada tahun 1963.
Lapangan ini telah menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Oleh karena itu, acara Halal Bihalal tersebut seolah menegaskan makna Lebaran sebagai wadah persatuan dalam keberagaman, mencerminkan semangat Jakarta sebagai rumah bagi semua etnis, agama, dan golongan—tanpa mengesampingkan masyarakat Betawi sebagai penduduk inti yang menjadi saksi dan fasilitator gerakan kebangsaan sejak 117 tahun silam.
Dalam konteks kekinian, acara Halal Bihalal ini dapat menjadi ruang silaturahmi akbar, panggung kebanggaan, sekaligus cermin semangat untuk terus bersuara lewat nada-nada harmoni—layaknya musik tanjidor yang ceria namun terstruktur, menghadirkan irama kesatuan di tengah keragaman. Nasionalisme yang sehat bukan tentang keseragaman, melainkan tentang kesediaan yang penuh kesadaran untuk hidup berdampingan dalam perbedaan.
Dengan diprakarsai Gubernur Pramono Anung dan Wagub Rano Karno, warga Jakarta dapat bersilaturahmi dengan pemimpinnya untuk saling memaafkan dan menguatkan, sehingga menumbuhkan semangat persaudaraan dan kebersamaan serta menyampaikan pesan bahwa perjalanan besar tak pernah bisa ditempuh sendirian.
Dalam menghadapi tantangan menjadi kota global, perubahan akan datang dari segala penjuru: ekonomi, teknologi, pendidikan, sosial, dan budaya. Kompetisi akan semakin tajam, standar akan semakin tinggi, dan dunia hanya akan menghormati mereka yang kokoh berakar tetapi lentur menari bersama zaman.
Oleh karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng ini sejatinya adalah “Lebaran Betawi”, tanpa harus secara eksplisit menyebutnya dalam nomenklatur yang definitif. Ketika Gubernur Pramono Anung menegaskan budaya Betawi sebagai budaya inti kota Jakarta, maka budaya Betawi telah menjadi identitas kolektif warga Jakarta yang plural.
Budaya Betawi sebagai identitas kota Jakarta dapat menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan dan harmoni. Semangat inklusivitas yang terkandung di dalamnya dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat hubungan antarwarga serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersamaan dan toleransi.
Saatnya masyarakat Jakarta bersatu dalam bingkai kolektif, menguatkan solidaritas, menciptakan inovasi, dan mendeklarasikan Jakarta sebagai kota yang berakar, berkarakter, dan bermartabat. Di kota yang penuh keberagaman ini, kita perlu belajar saling menghargai dan menghormati perbedaan, serta menjaga kekayaan budaya yang ada.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar