Langsung ke konten utama

DARI LAPANGAN BANTENG KE PUSARAN DUNIA

Oleh: M. Abu Bakar Maulana
FKDM Jakarta Barat dan Kaukus Muda Betawi

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Menarik apa yang ditulis KH. Lutfi Hakim dalam tajuk Halal Bi Halal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran. 

Tulisan yang menyejukkan itu mengingatkan saya pada Yudi Latif dalam Menjemput Mentari: kebersamaan tidak akan lahir hanya dengan mengutuk kegelapan. Perlu waktu bagi mentari untuk terbit dan bersinar, sementara kita sering justru menutup jendela rumah saat fajar menyingsing.

Bila ruang jiwa kita cukup lapang, momen halal bihalal ini adalah penantian yang mendebarkan, seperti seorang pengasih menanti kekasihnya tiba. Kita menata rumah dan pekarangan batin agar rapi bersih, membuka pintu dan jendela menyambut kedatangan, mematut diri, dan menyiapkan yang terbaik. Kita merasakan setiap detik sebagai momen istimewa.

Seberapa banyak cahaya kebersamaan menerangi ruang Jakarta, tergantung seberapa lebar jendela jiwa warganya. Bahkan di kelamnya perbedaan, mereka yang terjaga masih bisa menyaksikan keindahan bintang dan rembulan toleransi. Sementara di bawah terik kemajuan, mereka yang menutup diri tetap hidup dalam kegelapan prasangka.

Dalam bahasa sosiologi Emile Durkheim, inilah yang disebut solidaritas organik: kebersamaan yang tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesadaran bahwa kita berbeda peran namun saling membutuhkan. 

Solidaritas itu tidak akan kokoh tanpa modal sosial, seperti yang diingatkan Robert Putnam kepercayaan, norma resiprositas, dan jaringan-jaringan warga yang dirawat dalam keseharian: dari majelis taklim, sanggar Betawi, arisan RT, hingga obrolan warung kopi. Di ruang-ruang kecil itulah Jakarta sesungguhnya diikat.

Dan ikatan itu membutuhkan wadah. Jürgen Habermas mengingatkan bahwa demokrasi hidup di ruang publik, tempat warga bertemu tanpa sekat status untuk berdialog secara setara. Lapangan Banteng, dalam hal ini, bukan sekadar lokasi, melainkan simbol: ruang terbuka di mana pejabat dan rakyat, Betawi dan pendatang, duduk dalam satu saf kebersamaan.

Kini, semua itu teruji di tengah pusaran geopolitik yang memanas, khususnya konflik Iran yang kembali menyulut ketegangan kawasan. Ulrich Beck menyebut zaman ini sebagai masyarakat risiko, di mana ancaman seperti krisis energi dan disrupsi rantai pasok tidak mengenal batas negara. 

Getarannya menjalar ke harga kebutuhan kita, ke ruang digital kita, ke suhu politik identitas kita. Risiko itu tidak memilih agama atau suku; ia menimpa semua. Justru di tengah risiko global itulah solidaritas baru diuji — apakah kita saling menguatkan, atau saling mencurigai.

Karena itu, lebih baik kita menata rumah bersama dengan melebarkan jendela jiwa. Ada saatnya malam berganti siang, gelap memanggil cahaya untuk menggantikan. Bila rumah Jakarta cukup besar menampung sinar pencerahan, kita akan menemukan jalan kebangkitan — bukan hanya sebagai kota, tetapi sebagai simpul peradaban yang tidak mudah diaduk oleh badai dari luar.

Oleh karena itu, mari kita bangun dan buka jendela jiwa kita, agar sinar mentari Idulfitri memasuki setiap rongga rumah Jakarta, membangunkan kita dari lelap tidur panjang, dan menjadikan momentum ini untuk memperkuat kebersamaan, toleransi, dan kerukunan, serta menjaga kekayaan budaya di Jakarta. 

Dengan begitu, kita dapat membangun Jakarta sebagai kota global yang berbudaya Betawi, harmonis, sejahtera untuk semua, dan tetap jernih membaca dunia di tengah konflik yang berkepanjangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 24 TAHUN FBR: DARI TUDUHAN NORAK DAN PENUH ANCAMAN, MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARKAUMBETAWI | JAKARTA,- Salam rempug, dua puluh empat tahun sudah Forum Betawi Rempug (FBR) hadir di tengah masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sebuah perjalanan panjang bagi sebuah organisasi massa yang lahir dari semangat kebudayaan, identitas, dan solidaritas msayarakat Betawi. Meski tak luput dari kritik, kontroversi, bahkan upaya pembubaran, FBR tetap bertahan—terus tumbuh dan meluas hingga ke luar wilayah Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi lintas batas dalam barisan kerempugan. Di saat banyak ormas dituding meniru gaya militer atau menampilkan wajah represif, FBR memilih jalur berbeda: jalur budaya dan kedaerahan. Gaya khas lokal Betawi dengan keluguan, kelugasan dan kesederhanaannya, yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru menjadi ciri khas yang membedakan FBR dari organisasi lain. Gaya ini pula yang menjadikannya dekat dengan rakyat, bukan dengan kekuasaan. Tidak bisa dipungkiri, perjalanan FBR memang tidak selalu mulus. Ada masa ketika cit...

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

Premanisme Jalanan Dibasmi, Premanisme Berdasi Dibiarkan?

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, – Upaya aparat keamanan dalam menertibkan premanisme jalanan di berbagai sudut Jakarta mendapat apresiasi publik. Ketertiban memang bagian dari hak dasar warga negara. Pasar yang bersih dari pungli, terminal yang aman dari ancaman geng lokal, dan ruang publik yang bebas dari intimidasi adalah hal mendasar dalam kehidupan kota yang beradab. Namun, ketika aparat dengan sigap menangkap pelaku pungli di pasar, menyisir kawasan rawan, dan menertibkan lapak-lapak liar, muncul satu pertanyaan tajam dari benak masyarakat: mengapa negara terlihat begitu tegas kepada preman kecil di jalanan, namun begitu pelan—bahkan gamang—dalam menghadapi premanisme berdasi yang merampok uang negara secara sistemik? Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Di tengah publikasi besar-besaran mengenai razia preman jalanan, masyarakat justru melihat bayang-bayang lain yang tak kalah menyeramkan: korupsi berjamaah di balik proyek-proyek negara, kartel tambang, permainan anggaran sos...