SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug, Rasulullah tidak pernah makan Ketupat, sayur godog, opor ayam atau semur daging kebo di hari Lebaran. Tapi leluhur kita secara sengaja menyembunyikan pesan-pesan beliau di dalam semua makanan tersebut. Kita memakannya setiap tahun tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik semua itu?
Leluhur kita tidak punya mimbar megah. Tidak punya pengeras suara. Tidak punya platform digital. Tidak punya akun medsos. Namun mereka punya satu hal, yaitu kemampuan melihat bahwa manusia belajar bukan hanya lewat telinga, tapi dari tangan yang menganyam janur, lewat aroma santan dan daging kebo yang menguar dari dapur, lewat suapan pertama di pagi hari raya. Islam tidak datang dengan menghancurkan budaya, tapi menyusup ke dalam budaya pelan, dalam dan permanen.
Sampai sekarang, kita masih menganyam ketupat, menuang sayur godok dan opor ayam, menyantap lahap semur daging kebo. Tanpa sadar kita sedang berdakwah di meja makan kita sendiri, setiap tahun tanpa henti.
Rasulullah tidak meninggalkan ketupat, sayur godog, opor ayam dan semur daging kebo sebagai makanan ikonik di hari raya. Tapi beliau meninggalkan nilai: suci, bersih, maaf, kerukunan dan toleran. Leluhur kita menyimpannya lewat makanan dalam lidah dan budaya kita. Kemungkinan itulah cara dakwah yang paling sunyi sekaligus abadi.
Ketupat Betawi
Ketupat adalah nasi yang dibungkus dalam anyaman daun kelapa muda yang kemudian direbus hingga padat dan kenyal. Proses pembuatan ketupat ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan alam sekitar sebagai pelajaran hidup.
Ketupat dalam tradisi Betawi merupakan simbol untuk mengingat asal-usul dan leluhur mereka yang agraris sekaligus maritim. Beras, bahan dasar ketupat, merupakan kekentalan tradisi agraris, sementara daun kelapa yang digunakan untuk membungkus, adalam lambang masyarakat maritim.
Ketupat memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Betawi. Ketupat merupakan simbol kesucian dan kebersihan, karena beras yang dibungkus dengan daun kelapa menjadi putih dan bersih tidak tercemar oleh apapun.
Para leluhur mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya secara perlahan dan mendalam kepada masyakat Betawi hingga meresap sampai ke akarnya, sampai ke meja makan, sampai ke lidah anak cucu yang bahkan mereka tidak tahu sedang belajar agama.
Kemungkinan alasan tersebut yang menjadikan ketupat bukan hanya dikonsumsi pada hari raya, tapi juga di malam pergantian Surah Al-Qur’an saat melaksanakan shalat Taraweh di malam pertengahan bulan Ramadhan dan di malam-malam yang diyakini sebagai malam turunnya Lailatul Qadr (malam ke-21, 23, dan 25). Bahwa Lailatul Qadr dan Idul Fitri hanya bisa diperoleh dengan kebersihan hati dan kesucian diri.
Opor Ayam dan Semur Daging Kebo
Selanjutnya kenapa opor ayam atau semur daging kebo bukan soto, bukan gulai atau lainnya? Dari sini kita bisa melihat pengaruh budaya Jawa dan Sunda yang cukup kental terhadap masyarakat Betawi dan dapat dimaknai sebagai sikap inklusifitas mereka.
Dalam lisan Jawa, kata “opor” berarti “ngapuro”, maaf; meminta maaf atau memaafkan. Sementara santan yang putih pekat, yang mengalir dan menyatukan aneka bumbu, juga terdapat dalam sayur Godog, dalam bahasa Jawa “Santen”, bunyinya seperti “pengapunten”, dan dalam bahasa Sunda, bunyinya seperti “punten” yang artinya permohonan maaf atau permintaan izin. Kuah yang putih bersih itu menyembunyikan sebuah doa dan harapan agar hati dapat kembali putih setelah Ramadhan.
Bagaimana dengan ayamnya? Ayam adalah hewan yang senang berkumpul, yang selalu kembali ke kawanan atau komunitas. Makhluk yang menyukai silaturrahmi dan kebersamaan.
Semur dalam sejarah kuliner Betawi memiliki kaitan erat dengan pengaruh penjajahan Belanda yang membawa teknik memasak Eropa ke Indonesia. Semur awalnya terinspirasi oleh teknik memasak daging sapi yang digunakan oleh orang Belanda, tetapi kemudian dikembangkan dengan sentuhan rasa lokal seperti kecap manis, yang menjadi ciri khas masakan Betawi. Daging yang dimasak dalam semur akan terasa empuk dan meresap dengan bumbu yang kaya, menciptakan hidangan yang gurih, manis, dan lezat.
Sementara masyarakat Betawi lebih memilih kerbau atau kebo dan bukan sapi karena di samping sebagai mitra kerja masyarakat agraris, yakni sebagai alat bercocok tanam dan transportasi hasil pertanian, juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
Tambahan lagi, pilihan kebo merupakan bentuk toleransi masyarakat Betawi terhadap pemeluk agama Hindu, yang menghormati sapi. Prinsip kerukunan sebagai poin penting dalam menciptakan harmoni tetap terjaga.
Jadi, dalam satu porsi ketupat di hari Lebaran, di setiap suapan dan gigitan daging ayam dan kebo terkandung makna yang dalam bahwa keadilan bukan hanya soal hukuman, tapi juga keseimbangan dan harmoni sosial, di mana semua orang diperlakukan setara dalam kebersamaan.
Keadilan itu tidak hanya soal hukum di pengadilan, tapi juga tentang mengakui kesalahan, memaafkan, dan menjaga keseimbangan dalam hubungan antar manusia. Inilah yang disebut keadilan restoratif, yang mensyaratkan pelakunya mengakui kesalahan secara jujur dan penuh kesadaran.
Tujuan utama keadilan restoratif bukan menghukum, melainkan memulihkan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat, sehingga kembali rukun dan harmoni, bukan kalah-menang. Keadilan bukan hanya soal benar atau salah, tapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan kesediaan untuk memulihkan hubungan.
Oleh: ImamBesarFBR
Tabik.
Komentar
Posting Komentar