Langsung ke konten utama

Menggandeng PT. Mayora, MUI Jakarta Beri Bantuan Bagi Penyintas Kebakaran Manggarai

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta bekerjasama dengan PT. Mayora Tbk pada hari Jum’at (23/8) memberikan bantuan sebanyak 2.600 galon air Le Minerale kepada penyintas kebakaran di Manggarai, yang telah direlokasi ke rusun Pasar Rumput Jakarta Selatan.

Hadir mewakili Pimpinan MUI Jakarta, Ketua dan Sektetaris Bidang Seni Budaya Islam, KH. Lutfi Hakim dan Hj. Erlina Fauziyah, Bidang Sosial dan CSR, KH. Ahmad Ya’la, Ketua Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK), Hj. Nurani Syaifullah dan pengurus ketiga bidang tersebut. Sementara dari PT. Mayora Tbk, diwakili oleh Manager Public Relationnya, Michael.

KH Lutfi Hakim mengatakan bahwa bantuan ini merupakan bentuk kepedulian MUI Jakarta untuk meringankan beban yang dirasakan para penyintas kebakaran di Manggarai, terutama dalam memenuhi kebutuhan air minum.

Selain itu, MUI juga melakukan  trauma healing dan pemberian santunan bagi anak-anak mereka. Menurut KH Lutfi Hakim, Pelaksanaan trauma healing bagi anak-anak di sini dianggap perlu, untuk membantu merecovery atau mengembalikan kesehatan mental anak-anak mereka.

“Bagi kami, bencana apapun itu termasuk musibah, dan bukan azab. Sudah selayaknya MUI menunjukkan sikap kepeduliannya atas dasar kemanusiaan. Insya Allah sikapnya akan terus begitu,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Difasilitasi Mobil Mewah Pakai Dana Umat

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) Kyai Lutfi Hakim turut angkat bicara terkait komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta diguyur Innova Zenix. “Seharusnya, dana atau cuan pembelian 5 unit Innova Zenix itu dikembalikan ke umat. Karena itu bersumber dari dana umat Islam,” ujar Kyai Lutfi Hakim yang merupakan Imam Besar FBR ini, Kamis (17/7/2025). Dijelaskannya, tidak ada aturan ataupun hak bagi para Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta untuk mempergunakan dana umat untuk mendapatkan fasiltas wah, apalagi kepentingan pribadi. “Mestinya dibelikan untuk yang bermanfaat bagi umat, misalnya membeli ambulance, membiayai fasilitas kesehatan atau pendidikan dan lain - lain, tidak untuk fasilitas komisioner,” tegasnya. Dikabarkan, lima komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta sedang dilanda isu tidak sedap, yakni dugaan skandal gratifikasi berupa lima unit Toyota Innova Zenix. Hal ini pun menjadi perbincangan hangat publik, tokoh, aktivis dan penggiat Ibu Ko...

MENYONGSONG 24 TAHUN FBR: DARI TUDUHAN NORAK DAN PENUH ANCAMAN, MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARKAUMBETAWI | JAKARTA,- Salam rempug, dua puluh empat tahun sudah Forum Betawi Rempug (FBR) hadir di tengah masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sebuah perjalanan panjang bagi sebuah organisasi massa yang lahir dari semangat kebudayaan, identitas, dan solidaritas msayarakat Betawi. Meski tak luput dari kritik, kontroversi, bahkan upaya pembubaran, FBR tetap bertahan—terus tumbuh dan meluas hingga ke luar wilayah Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi lintas batas dalam barisan kerempugan. Di saat banyak ormas dituding meniru gaya militer atau menampilkan wajah represif, FBR memilih jalur berbeda: jalur budaya dan kedaerahan. Gaya khas lokal Betawi dengan keluguan, kelugasan dan kesederhanaannya, yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru menjadi ciri khas yang membedakan FBR dari organisasi lain. Gaya ini pula yang menjadikannya dekat dengan rakyat, bukan dengan kekuasaan. Tidak bisa dipungkiri, perjalanan FBR memang tidak selalu mulus. Ada masa ketika cit...