Langsung ke konten utama

GELOMBANG BARU KERESAHAN EROPA: Analisis Kerusuhan Paris 17 Oktober 2026

*****
Robi Nurhadi, PhD
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional 
*****

SUARAKAUMBETAWI | Pada 17 Oktober 2026, Prancis mengalami salah satu hari protes paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan lebih dari 550.000 peserta di seluruh negeri, dengan 1.200 orang ditahan dan 150 polisi terluka (The Munich Eye, 2026). Awalnya merupakan protes pelajar atas fasilitas pendidikan, aksi ini berubah menjadi kerusuhan nasional soal biaya hidup. Artikel ini menjawab tiga pertanyaan: apakah akan memburuk, apakah akan menyebar ke Eropa, dan apakah akan mendunia, dengan menggunakan lensa teori gerakan sosial.

Kerusuhan Paris: Dari Protes Sekolah ke Krisis Nasional

Gelombang awal protes dimulai September 2026 di SMA pinggiran utara Paris yang miskin, dimana kemarahan atas ketidakhadiran guru dan fasilitas kumuh berubah menjadi gerakan nasional melawan ketimpangan dan lemahnya belanja publik (Reuters, 2026). Pada 17 Oktober, mahasiswa, serikat pekerja, dan sisa gerakan Yellow Vest bergabung untuk berdemonstrasi melawan harga tinggi (Reuters, 2026).

Pemerintah memperkirakan 200 hingga 300 aksi di seluruh negeri termasuk di pusat kota, SPBU, dan supermarket (Bytes Europe, 2026). Kerusuhan meletus ketika demonstrasi damai berubah menjadi kekerasan, pembakaran, dan penjarahan terburuk dalam beberapa dekade (Indonesia Now, 2026). Menurut Agence France-Presse (AFP), kelompok perusuh menargetkan gedung publik, menjarah butik mewah, dan menyerang kendaraan (Indonesia Now, 2026). Di Paris, pemrotes bertopeng menembakkan kembang api ke polisi yang dibalas dengan gas air mata (Seoul Economic Daily, 2026). Balai kota Limoges yang berusia 140 tahun dibakar hingga menaranya runtuh, balai kota Marseille dibobol, dan kantor pariwisata Lyon dibakar (The Munich Eye, 2026).

Presiden Emmanuel Macron menegaskan tidak ada tempat untuk kekerasan di Republik (The Bangladesh Dispatch, 2026).

Mengapa Ini Terjadi?

Deprivasi Relatif
Gurr (1970) dalam Why Men Rebel menjelaskan bahwa pemberontakan tidak disebabkan oleh kemiskinan absolut, melainkan oleh kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Runciman (1966) menyebut ini relative deprivation. Hal ini tampak pada narasi pemrotes. Seorang pemrotes 19 tahun berkata, "Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi" (Indonesia Now, 2026), dan seorang mantan Yellow Vest mengatakan, "Saya adalah pemrotes Yellow Vest ketika bensin €1,40/liter, bayangkan sekarang €2,20" (Europeans24, 2026). Kenaikan harga tanpa kenaikan upah menciptakan deprivasi relatif yang dijelaskan Gurr (1970).

Mobilisasi Sumber Daya
McCarthy dan Zald (1977) berargumen bahwa keluhan saja tidak cukup; dibutuhkan _mobilizing structures. McAdam (1982) menambahkan perlunya organisasi dan kesadaran kolektif. Inilah yang membedakan Prancis. Gerakan pelajar yang dimulai 21 September di Créteil (CommandEleven, 2026) berhasil bergabung dengan serikat buruh besar CGT dan jaringan Yellow Vests yang grup WhatsApp dan Facebook-nya tetap aktif sejak 2018 (Europeans24, 2026). Tanpa CGT, mustahil memobilisasi 550.000 orang dalam sehari.

Apakah Akan Memburuk?

Tarrow (2011) dalam _Power in Movement_ menjelaskan bahwa gerakan memburuk ketika _political opportunity structure_ terbuka. Tiga peluang terbuka di Prancis:

Pertama, perma-crisis. PM Sébastien Lecornu sendiri mengakui "kita berada dalam suasana perma-krisis: perang, inflasi, dan isu daya beli" (Reuters, 2026). Investor membuang utang Prancis, mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam dua dekade (Reuters, 2026).

Kedua, kalender elektoral. Protes terjadi di akhir masa jabatan Macron dengan elektoral terpolarisasi (Reuters, 2026). Oposisi Jordan Bardella yang unggul di jajak pendapat menyebut ini akan menjadi hari kekacauan (Reuters, 2026). Kriesi (2004) menjelaskan bahwa menjelang pemilu, elit oposisi cenderung memanfaatkan protes untuk kepentingan elektoral.

Ketiga, warisan tak terselesaikan. Tuntutan €11 miliar untuk sekolah membutuhkan pajak lebih tinggi atau pemotongan di tempat lain (Europeans24, 2026), sementara Prancis terakhir beranggaran seimbang pada 1973. Ini adalah krisis austerity yang dianalisis Della Porta (2015) dalam Social Movements in Times of Austerity.

Apakah Menyebar ke Eropa?

Penyebaran sudah terjadi. Pada 18 Oktober 2026, ratusan ribu orang di seluruh Eropa bergabung dalam protes terpisah atas kenaikan biaya hidup yang tidak terkoordinasi, mempengaruhi Belgia, Prancis, Italia, dan Portugal (The Munich Eye, 2026).

Snow dan Benford (1999) serta Tarrow dan McAdam (2005) membedakan scale shift dalam protes transnasional. Apa yang menyebar bukan organisasi, melainkan frame. Frame "biaya hidup" mudah beresonansi. Di Portugal, isu perumahan dengan harga naik dua kali lipat sejak 2017 menjadi pemicu, di Belgia isu uang kuliah (Seoul Economic Daily, 2026; CommandEleven, 2026).

Pirro dan Portos (2024) dalam studi terbaru tentang populisme dan protes biaya hidup di Eropa menunjukkan bahwa negara dengan inflasi tinggi dan krisis perumahan memiliki kemungkinan mobilisasi lebih tinggi. Hal ini menjelaskan mengapa setelah Prancis, analis memperkirakan Jerman, Yunani, dan Austria akan menyusul.

Apakah Menyebar ke Seluruh Dunia?

Castells (2012) dalam _Networks of Outrage and Hope_ menjelaskan bagaimana media sosial menciptakan jaringan kemarahan. Kehadiran Greta Thunberg di blokade Saint-Denis (Europe Says, 2026) dan jaringan Facebook Yellow Vests (Europeans24, 2026) mempercepat tactical diffusion.

Namun, Cini et al. (2024) dalam Student Movements in Late Neoliberalism menunjukkan bahwa gerakan pelajar di negara berbeda memiliki dinamika lokal. Protes biaya hidup bersifat global sebagai keluhan, tetapi bentuknya lokal sebagai gerakan. Di Indonesia, keluhan serupa tentang UKT dan kos-kosan ada, tetapi tanpa struktur mobilisasi seperti CGT, eskalasinya berbeda.

Implikasi bagi Indonesia

Bagi Warga Negara Indonesia di Prancis, hindari 110 titik pawai termasuk 110.000 massa di Paris (Seoul Economic Daily, 2026) dan titik blokade tol dan SPBU (Bytes Europe, 2026). Hindari area Galeries Lafayette yang diserang (Seoul Economic Daily, 2026) dan balai kota yang menjadi target (Indonesia Now, 2026).

Bagi Pemerintah Indonesia, pelajaran dari McAdam (1982) adalah pentingnya political process. Daripada menunggu konvergensi gerakan pelajar dan buruh, lakukan audit fasilitas dan transparansi biaya pendidikan sejak dini. Seperti yang terjadi di Prancis pada 21 September 2026 (CommandEleven, 2026), keterlambatan respons mengubah isu sektoral menjadi krisis nasional.

Kesimpulan

Kerusuhan Paris 2026 dapat dijelaskan melalui tiga teori klasik: deprivasi relatif (Gurr, 1970), mobilisasi sumber daya (McCarthy & Zald, 1977), dan peluang politik (Tarrow, 2011). Ia sudah menyebar ke Eropa sebagai difusi bingkai (The Munich Eye, 2026) dan berpotensi menjadi jaringan kemarahan global (Castells, 2012), tetapi intensitas kekerasan akan tetap ditentukan oleh struktur mobilisasi lokal di setiap negara. Wallahu'alam.


Daftar Pustaka
Bytes Europe. (2026, October 16). France braces for nationwide cost-of-living protests Saturday.

Castells, M. (2012). Networks of outrage and hope: Social movements in the internet age.Polity Press.

Cini, L., Della Porta, D., & Guzmán-Concha, C. (Eds.). (2024). Student movements in late neoliberalism: Dynamics of contention. Palgrave Macmillan.

CommandEleven. (2026). France and Belgium before October 17: When student protest becomes organized political violence.

Della Porta, D. (2015). Social movements in times of austerity: Bringing capitalism back into protest analysis. Polity Press.

Europeans24. (2026). France Yellow Vest Protests: Students and unions unite against cost of living.

Gurr, T. R. (1970). Why men rebel. Princeton University Press.

Indonesia Now. (2026, October 18). Riots erupt across France as cost-of-living protests turn violent. [AFP Photo]

Kriesi, H. (2004). Political context and opportunity. In D. A. Snow, S. A. Soule, & H. Kriesi (Eds.), The Blackwell companion to social movements (pp. 67–90). Blackwell.

McAdam, D. (1982). Political process and the development of Black insurgency, 1930-1970. University of Chicago Press.

McCarthy, J. D., & Zald, M. N. (1977). Resource mobilization and social movements: A partial theory. American Journal of Sociology, 82(6), 1212–1241.

Pirro, A. L. P., & Portos, M. (2024). Populism and cost-of-living protests in Europe. European Journal of Political Research, 63(2), 412–430.

Reuters. (2026, October 17). Tens of thousands expected to protest across France as students, trade unionists and Yellow Vest join forces.

Runciman, W. G. (1966). Relative deprivation and social justice: A study of attitudes to social inequality in twentieth-century England. University of California Press.

Seoul Economic Daily. (2026, October 18). Anger over living costs erupts across France, spreads to neighbors. [Reuters; Associated Press].

Snow, D. A., & Benford, R. D. (1999). Alternative types of cross-national diffusion in the social movement arena. In D. della Porta, H. Kriesi, & D. Rucht (Eds.), Social movements in a globalizing world. Macmillan.

Tarrow, S. (2011). Power in movement: Social movements and contentious politics (3rd ed.). Cambridge University Press.

Tarrow, S., & McAdam, D. (2005). Scale shift in transnational contention. In D. della Porta & S. Tarrow (Eds.), Transnational protest and global activism. Rowman & Littlefield.

The Bangladesh Dispatch. (2026, October 18). France's streets erupt: Macron condemns violence as cost-of-living protests spread nationwide. [Associated Press; Reuters]

The Munich Eye. (2026, October 18). Cost of living protests sweep Belgium, Italy, Portugal and France. [AFP].

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Oleh : KH Lutfi Hakim SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug. Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/4/2026) mendatang. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarwarga Jakarta lewat seni, tradisi, dan cita rasa. Pilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi acara sangat tepat karena memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna. Pada masa kolonial Belanda, lapangan tersebut dikenal sebagai _Waterlooplein_ (Lapangan Waterloo) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 untuk memperingati kemenangan Belanda atas Napoleon di Waterloo pada 1815.  Pada 1828, Belanda mendirikan tugu patung singa di tengahnya sebagai simbol kemenangan tersebut, sehingga tempat itu populer disebut Lapangan Singa. Pada masa kemerdekaan, Presiden Soekarno mengubah namanya menjadi Lapangan Banteng. Ikon utamanya kini adalah M...