Langsung ke konten utama

Quo Vadis Pergub LAM Betawi: Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Pram-Doel

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, kota yang lahir dari pertemuan budaya, tampak tenang di permukaan. Tapi di balik itu, ada potensi riak kecil yang bisa menjadi ancaman besar bagi kesatuan budaya Betawi. Peraturan Gubernur (PERGUB) Lembaga Adat Masyarakat Betawi yang menjadi payung hukum pelestarian budaya belum juga terbit. Pergub ini bukan sekadar dokumen administratif, tapi jawaban strategis untuk menutup celah konflik lintas generasi, menegaskan legitimasi lembaga adat, dan menjaga akulturasi budaya agar tetap hidup di tengah dinamika Jakarta modern.

Gubernur Pramono Anung pernah menegaskan bahwa menyatukan komunitas Betawi yang beragam bukan perkara mudah. Setiap kelompok memiliki sejarah, tradisi, dan aspirasi yang berbeda. Penyusunan pergub bukan sekadar urusan administratif, tapi soal legitimasi budaya dan politik yang harus diterima seluruh pihak agar tidak ada yang merasa tersingkir.

Masalah makin kompleks ketika muncul klaim bahwa kongres Majelis Kaum Betawi-lah yang seharusnya menentukan terbentuknya lembaga adat. Majelis Kaum Betawi, resmi berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Hukum RI Tahun 2025, tetap harus mengikuti UU Ormas Nomor 17 Tahun 2013 dan mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar dari Kesbangpol DKI Jakarta. Namun jika kongres mereka dianggap sebagai penentu sahnya lembaga adat, ini seperti menempatkan “penumpang gelap di tikungan.” 

Logika semacam itu membuka celah konfrontasi lintas generasi, memungkinkan munculnya MKB satu, dua, bahkan tiga dari setiap klan Betawi, dan berpotensi memecah kesatuan budaya yang seharusnya terjaga.

Di permukaan, riak-riak kecil yang merasa besar bisa muncul. Mereka yang sebelumnya diam akan terdorong menuntut representasi, memunculkan konflik publik yang panjang. Betawi bukan hanya soal seniman atau ormas; ia memiliki seluruh perangkat masyarakat: ulama, seniman, pengusaha, hingga elit legislatif dan eksekutif Betawi punya. Pertanyaannya adalah apakah kita rela melihat konflik ini muncul lagi dari generasi mendatang, sementara para pendahulu sudah meninggalkan lebih dahulu.

Di lain sisi, satu tahun kepemimpinan Pram-Doel menjadi momen tepat untuk mengangkat budaya Betawi. Saat Imlek, nyorok, hingga Munggahan datang bersamaan, tercipta bingkai kegembiraan budaya yang bisa menjadi pintu gerbang depolarisasi yang sudah diakui para pemerhati, bahwasanya era kepemimpinan Pram-Doel berhasil membawa depolarisasi dan stabilitas politik. Terlebih, komunikasi yang terjaga antara eksekutif dan legislatif pada era ini, menjadi momentum untuk menjadikan Betawi sebagai role model serta poros kebetawian di sejumlah kota penyangga Jakarta.

Di sinilah LAM Betawi hadir sebagai jawaban strategis. Digagas oleh KH. Lutfi Hakim dan Kaukus Muda Betawinya, lembaga ini bukan sekadar simbol. Ia menjadi instrumen untuk menyelaraskan pembangunan Jakarta dengan nilai-nilai adat, menjadi jembatan antara pemerintah dan komunitas lokal, menjaga keseimbangan sosial, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mengantisipasi fragmentasi akibat kongres eksklusif yang bisa memunculkan lembaga adat partisan.

Dengan LAM Betawi, akulturasi budaya Betawi tetap diakui secara resmi, tanpa harus bergantung pada kongres yang bisa menimbulkan eksklusivitas dan konflik yang bisa kita contoh dari beberapa daerah lain yang telah lebih dulu menetapkan regulasi serupa. Sebut saja, Jawa Barat melalui Pergub No. 43 Tahun 2018, Bali melalui Pergub No. 4 Tahun 2019, dan Sulawesi Selatan dengan Pergub No. 22 Tahun 2018, telah mengatur pengakuan, perlindungan, dan pemberdayaan lembaga adat. Jakarta bisa belajar dari pengalaman itu, memastikan bahwa setiap lembaga adat memiliki legitimasi hukum dan representasi yang jelas.

MKB dan LAM Betawi dapat berjalan berdampingan. MKB bisa menempatkan wakilnya dalam kepengurusan LAM Betawi, sehingga semua pihak merasa terwakili, tanpa harus memaksakan satu kongres tertentu sebagai penentu. Pergub LAM Betawi bukan sekadar instrumen hukum; ia adalah jawaban untuk menutup celah konflik yang bisa muncul di masa depan. 

Jika Betawi gagal bersatu sekarang, riak-riak kecil dan klaim eksklusif generasi mendatang bisa mengoyak kesatuan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Kesatuan bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan bagi keberlanjutan tradisi dan legitimasi budaya Betawi di tengah Jakarta modern yang harus disuguhkan utuh seperti ikan bandeng dari kepala hingga buntut, bukan malah menjadi ikan cere.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Difasilitasi Mobil Mewah Pakai Dana Umat

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) Kyai Lutfi Hakim turut angkat bicara terkait komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta diguyur Innova Zenix. “Seharusnya, dana atau cuan pembelian 5 unit Innova Zenix itu dikembalikan ke umat. Karena itu bersumber dari dana umat Islam,” ujar Kyai Lutfi Hakim yang merupakan Imam Besar FBR ini, Kamis (17/7/2025). Dijelaskannya, tidak ada aturan ataupun hak bagi para Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta untuk mempergunakan dana umat untuk mendapatkan fasiltas wah, apalagi kepentingan pribadi. “Mestinya dibelikan untuk yang bermanfaat bagi umat, misalnya membeli ambulance, membiayai fasilitas kesehatan atau pendidikan dan lain - lain, tidak untuk fasilitas komisioner,” tegasnya. Dikabarkan, lima komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta sedang dilanda isu tidak sedap, yakni dugaan skandal gratifikasi berupa lima unit Toyota Innova Zenix. Hal ini pun menjadi perbincangan hangat publik, tokoh, aktivis dan penggiat Ibu Ko...

Merawat Budaya, Membangun Harmonisasi Bangsa

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Judul tulisan ini diambil dari tema Milad ke 24 (dua puluh empat) tahun Forum Betawi Rempug (FBR), sebuah organisasi massa berbasis kearifan lokal yang lahir dari rahim kebudayaan dan identitas Betawi. Tema ini menjadi penting, bukan saja sebatas cermin, tapi sikap kesungguhan dan tanggung jawab FBR sebagai ikhtiar untuk mewujudkan ketahanan budaya Bangsa di kota Jakarta dan sekitarnya. Manakala membangun kesepahaman bersama dengan Pramono Anung- Rano Karno pada Pilkada Jakarta tahun 2024, FBR perlu kembali mendorong terealisasinya kesepahaman bersama dalam bentuk regulasi baik Peraturan Gubernur (Pergub) atau Peraturan Daerah (Perda) baik Lembaga Adat Masyarakat Betawi dan Pemajuan Kebudayaan Betawi. Terlepas dari kesepahaman yang dibangun, guna mewujudkan ketahanan budaya di Jakarta, dibutuhkan konsistensi perjuangan atas termaktubnya kedaulatan budaya Betawi dalam Pasal 31 UU DKJ yang lahir dari sebuah kesadaran identitas budaya yang jelas di...