Langsung ke konten utama

Soroti Aksi Mahasiswa, Tokoh Betawi Minta Aspirasi Disampaikan Secara Santun

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Tokoh masyarakat Betawi mengingatkan agar penyampaian aspirasi oleh mahasiswa tetap dilakukan secara damai dan tidak mengulangi peristiwa kerusuhan yang sempat terjadi pada sejumlah aksi demonstrasi pada 2025.

Menurutnya, masyarakat pada dasarnya mendukung kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi. Namun, aksi penyampaian aspirasi tidak boleh diwarnai tindakan anarkis maupun perusakan fasilitas umum yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas.

"Saya mendukung mahasiswa menyuarakan aspirasi. Tetapi saya tidak ingin kejadian tahun 2025 terulang lagi. Aspirasi yang sebenarnya baik justru dikotori oleh tindakan anarkis dan perusakan fasilitas umum," ujar dikutip Rabu, (24/6/2026). 

Ia mengatakan masyarakat Betawi menginginkan situasi Jakarta tetap aman dan kondusif agar warga dapat bekerja, berdagang, serta menjalani kehidupan sehari-hari dengan tenang.

"Kami orang Betawi tidak minta macam-macam. Kami hanya ingin hidup tenang, masyarakat bisa bekerja, bisa berjualan, dan bisa mendidik anak-anak menjadi mahasiswa yang luar biasa untuk bangsa dan negara," katanya.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan tujuan sejumlah aksi demonstrasi yang dinilainya kerap tidak tersampaikan secara jelas kepada masyarakat.

"Saya ingin bertanya, sebenarnya tujuan aksi ini apa? Kalau memang tujuannya baik, sampaikan dengan cara yang baik. Jangan sampai dilakukan dengan merusak fasilitas umum," ucapnya.

Terkait isu adanya pihak ketiga yang diduga menunggangi aksi demonstrasi, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti. Sebagai masyarakat awam, ia hanya melihat bahwa aksi tersebut dilakukan oleh kelompok mahasiswa.

"Kalau soal ada pihak ketiga atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya pahami sebagai masyarakat awam, itu adalah demo mahasiswa. Karena itu saya berharap kejadian seperti saat aksi Indonesia Gelap tahun 2025 tidak terulang lagi," katanya.

Ia juga berharap tidak ada lagi aksi pemblokiran jalan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian warga.

"Mahasiswa silakan menyampaikan aspirasi, itu hak mereka. Tetapi jangan lagi ada pemblokiran jalan yang merugikan masyarakat. Demo boleh, jangan rusuh. Kalau sampai rusuh, itu sudah merugikan warga," tegasnya.

Demikian disampaikan Mujamil, Koordinator Wilayah Forum Betawi Rempug (FBR) Jakarta Barat, dalam acara Catatan Demokrasi di TV one yang digelar belum lama ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...