SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salah satu rangkaian Lebaran di Betawi (selanjutnya akan disebut dengan Lebaran Betawi) adalah Andilan Potong Kebo Lebaran. Pada hari Kamis, 19 Maret 2026 di Taman Kerempugan FBR Jakarta Timur, acara Andilan tersebut digelar secara kolaboratif antara Forum Betawi Rempug (FBR) sebagai refresentasi masyarakat Betawi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta dan Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta sebagai refresentasi ormas keagamaan bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Sementara orang tidak pernah menyangka bahwa acara Andilan tersebut adalah contoh nyata heterenomi di Jakarta, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu merayakan tradisi Betawi bersama. Heterenomi sendiri adalah konsep yang berasal dari filsafat politik dan sosial, yang berarti kemampuan masyarakat mengatur diri sendiri dan bekerja sama dalam keanekaragaman tanpa otoritas sentral.
Menjadi relevan, Ketika Ketua PWNU Jakarta, KH Samsul Ma’arif, menyampaikan dalam sambutannya bahwa tradisi dan agama adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan. Tradisi yang baik dan maruf sering menjadi landasan hukum dalam pandangan NU, dengan pertimbangan akal sehat dan kebiasaan. Oleh karena itu, NU selalu menjaga tradisi kearifan lokal dan menekankan pentingnya sinergi antara ulama, jawara, dan umara dalam menjaga keharmonisan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Jakarta, KH Yusuf Aman, menekankan bahwa agama dan negara adalah seperti saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Agama menjadi pondasi yang kuat bagi negara, dan negara memiliki peran penting dalam menjaga dan melindungi agama. Tradisi-tradisi masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antara agama dan negara.
Dengan demikian, sinergitas antara agama, negara, dan tradisi masyarakat sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan kestabilan negara. Ini sangat relevan dengan Andilan tersebut, di mana tradisi dan agama bersatu dalam perayaan yang meriah dan penuh kebersamaan menyambut datangnya hari raya Iedul Fitri.
Lebaran Betawi
Dalam konteks Lebaran Betawi, heterenomi berarti masyakat Betawi dan masyarakat Jakarta lainnya bekerja sama mengatur tradisi ini secara bersama-sama, menciptakan keharmonisan dan toleransi. Lebaran di Jakarta bukan hanya tentang Idul Fitri, tapi juga tentang Lebaran Ketupat, dua perayaan meriah dan penuh kebersamaan menyatu dalam satu momentum—sebagai ekpresi budaya yang melekat dalam nafas masyarakat Betawi.
Hari raya Idul Fitri adalah waktu bersyukur dan bermaafan, sementara Lebaran Betawi adalah momen merayakan tradisi dan budaya di hari raya dengan Ketupat sebagai makanan wajibnya. Kedua perayaan ini menunjukkan kekayaan dan keberagaman budaya Jakarta. Dengan Lebaran Betawi, warga Jakarta lebih mengenal dan menghargai tradisi Betawi, memperkuat kebersamaan dan toleransi.
Idul Fitri dan Lebaran Betawi memiliki makna yang mendalam. Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah, pengaturan awal yang bersih dan suci. Sementara Lebaran Betawi adalah perayaan tradisi dan budaya Betawi yang memperkuat kebersamaan dan toleransi. Idul Fitri seperti reset hidup, membersihkan sistem, dan menghapus kesalahan. Lebaran Betawi seperti perayaan kebersamaan, menghapus batas-batas sosial, dan memperkuat ikatan antarwarga masyarakat.
Kita seperti HP yang penuh aplikasi tak perlu dan merusak, seperti kesombongan, kebencian, dan iri hati. Ramadhan membantu kita uninstall kebiasaan buruk dan memperbarui sistem operasi hati. Lebaran Betawi membantu kita memperkuat hubungan sosial dan budaya.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wagub Rano Karno, Jakarta semakin kaya akan corak Betawi. Tradisi Betawi seperti Andilan Kebo dan Palang Pintu sering digelar, menunjukkan komitmen pemerintah melestarikan budaya lokal.
Sebagai satu program kepemimpinan keduanya, pada Penghujung Ramadhan 1447, Jakarta akan menyambut hari kemenangan dengan penuh emosi mendalam. Jalan protokol akan dipenuhi warga merayakan tradisi Betawi.
Suara beduk dan takbir akan terdengar selepas Magrib, menandai berakhirnya Ramadhan. Irama beduk dan pawai obor akan memadati jalan protokol utama Sudirman-Thamrin menjadi ekspresi budaya dan syukur warga Jakarta.
Irama beduk dan pawai obor di Sudirman-Thamrin menjadi ekspresi syukur dan kebahagiaan warga Jakarta. Semua kalangan, tanpa mengenal strata ekonomi, usia, atau kedudukan, hanyut dalam suasana penuh kebahagiaan.
Beduk bukan hanya ornamen, tapi alat penghubung ibadah umat Islam. Di akhir Ramadhan, beduk mengitari bundaran sejarah Jakarta, menyempurnakan hari-hari akhir Ramadhan. Semarak Idulfitri terasa menusuk jantung, memecahkan telinga.
Masyarakat Betawi membuka ruang bagi siapa pun untuk mengunjungi kampung lain selepas salat Id. Ketupat, sayur godok, semur daging, pindang Bandeng, oblok ayam, tape, uli, dodol, wajik, baju baru, dan angpao Lebaran menjadi pemandangan wajib di hari Lebaran.
Dengan mengucapkan mohon maaf, kita kembali ke fitrahnya. Salam hangat di hari Lebaran!
Oleh: KH. Lutfi Hakim
Komentar
Posting Komentar