Langsung ke konten utama

Andilan Kebo Lebaran: Simbol Ketahanan Pangan dan Budaya

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA — Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, menegaskan bahwa tradisi andilan kebo merupakan wujud nyata solidaritas dan gotong royong masyarakat yang perlu terus dijaga dan dikembangkan. Menurut dia, tradisi ini berbeda dengan ibadah kurban, karena hanya peserta yang ikut patungan yang berhak menerima bagian daging.

“Andilan itu berarti patungan. Kalau tidak ikut andilan, tidak akan mendapat bagian. Ini berbeda dengan kurban. Tapi banyak yang masih beranggapan Andilan itu sama seperti Kurban,” ujar Kyai Lutfi.

Ia menambahkan, nilai utama dari andilan kebo adalah kebersamaan dan solidaritas yang bersifat universal, sekaligus mencerminkan kearifan lokal masyarakat Betawi. Pemilihan kerbau juga memiliki makna tenggang rasa, yakni bentuk penghormatan terhadap kelompok masyarakat tertentu.

“Ini bagian dari cara kita menjaga harmoni dan menghargai perbedaan sejak dulu,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa tradisi andilan kebo tidak sekadar budaya, tetapi juga memiliki potensi sebagai instrumen memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Ia menjelaskan, andilan kebo merupakan praktik gotong royong melalui mekanisme patungan untuk membeli kerbau, yang kemudian dagingnya dibagikan kepada peserta, sehingga menjadi solusi inklusif bagi masyarakat.

“Kalau kurban mungkin tidak semua bisa ikut, tetapi dengan andilan masyarakat bisa terlibat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ini sangat membantu,” ujar Rano.

Rano juga menekankan pentingnya menjaga tradisi lokal di tengah upaya Jakarta menjadi kota global.

“Jakarta ingin menjadi kota global, tetapi budaya harus tetap diangkat. Tradisi seperti ini punya nilai universal, gotong royong dan kebersamaan,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan budaya juga dapat menggerakkan ekonomi, termasuk meningkatkan sektor pariwisata dan tingkat hunian hotel.

Perwakilan Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, KH. Syamsul Maarif, menegaskan bahwa tradisi seperti andilan kebo memiliki landasan kuat dalam perspektif keagamaan.

“Dalam pandangan NU, tradisi dan agama tidak bisa dipisahkan. Kebiasaan yang baik menjadi bagian dari kehidupan, sudah sejak dahulu di Betawi apalagi tradisi yang penuh nilai-nilai religius,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta, KH Yusuf Aman, menekankan pentingnya menjaga keterpaduan antara nilai agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat serta peran pemerintah.

“Ulama dan jawara tidak bisa dipisahkan. Agama dan budaya berjalan beriringan, saling menjaga, dan menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat,” kata Yusuf.

Kegiatan andilan kebo yang digelar di pusat penggemukan sapi dan kerbau FBR Jakarta Timur, Gang Hasan Penggilingan Cakung Jakarta Timur ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diperluas di berbagai wilayah sebagai sarana edukasi nilai kebersamaan sekaligus penguatan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh dan pejabat, antara lain Walikota Jakarta Timur, Dr. H. Munjirin; Kepala Biro Dikmental Provinsi DKI Jakarta; Kepala Badan Kesbang Provinsi DKI Jakarta; KH Yusuf Aman (Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta); KH Muhyidin Ishak (Rois Syuriah PWNU); KH Lukman Halim Hamid (Katib Syuriah PWNU); KH Ridwan Idrus (Bendahara PWNU); KH Husny Mubarok Amir (Dewas PD. Darma Jaya), Hj. Erlina Fauziyah (MUI Jakarta), Ramdani Madit, Camat Cakung H. Rahmad; Korwil FBR Jakarta Timur; KH Zarkasih Usman; H. Beki Mardani (Ketua PMI DKI); serta Lurah Penggilingan dan sejumlah seniman Betawi dan aktifis lainnya. **

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...