Langsung ke konten utama

FBR Bantu Distribusi Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan di Parung

SUARAKAUMBETAWI | BOGOR - Kemarau panjang akibat fenomena Godzilla El Nino di pertengahan tahun 2026 ini menyebabkan kekeringan yang panjang juga di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Bogor, Jawa Barat yang terkenal sebagai daerah hujan, namun kali ini juga terdampak kekeringan, seperti di Kampung Jati, Desa Parung Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.

Pada hari Rabu, 26 Agustus 2026, Forum Betawi Rempug (FBR) turun ke Kampung Jati tersebut untuk membantu kesulitan masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan air bersih

“Insya Allah, FBR akan terus melakukan bantuan air ini kepada mereka yang membutuhkan. Karena ketika mendengar kata musim kemarau, sebagian orang mungkin langsung membayangkan cuaca panas, jalanan berdebu, tanaman yang mulai mengering, dan hujan yang semakin jarang turun. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rentan kekeringan, musim kemarau, seperti di Kampung Jati ini, dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar,” ujar Imam Besar FBR, KH Lutfi Hakim, dalam siaran persnya.

Lebih lanjut, KH Lutfi Hakim menyampaikan bahwa konsekuensi yang jauh lebih besar dari musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena Godzilla El Nino ini Air di sumur dan mata air dapat berkurang, lahan pertanian mengering, biaya mendapatkan air meningkat, sementara keluarga harus tetap memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi, mencuci, dan sanitasi setiap hari.

“Inilah kondisi yang sedang terjadi di wilayah Kampung Jati, Desa Parung Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tujuan FBR dengan hadir membantu memberikan air ini semata-mata meringankan beban warga yang tersebut yang terdampak kekeringan. Semoga Allah meridhoi kami, amiiin,” pungkas Imam Besar FBR.*.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Oleh : KH Lutfi Hakim SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug. Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/4/2026) mendatang. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarwarga Jakarta lewat seni, tradisi, dan cita rasa. Pilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi acara sangat tepat karena memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna. Pada masa kolonial Belanda, lapangan tersebut dikenal sebagai _Waterlooplein_ (Lapangan Waterloo) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 untuk memperingati kemenangan Belanda atas Napoleon di Waterloo pada 1815.  Pada 1828, Belanda mendirikan tugu patung singa di tengahnya sebagai simbol kemenangan tersebut, sehingga tempat itu populer disebut Lapangan Singa. Pada masa kemerdekaan, Presiden Soekarno mengubah namanya menjadi Lapangan Banteng. Ikon utamanya kini adalah M...