Langsung ke konten utama

Andilan Potong Kebo: Tradisi Sambut Lebaran Masyarakat Betawi

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Di sejumlah kampung Betawi, persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri tidak selalu dimulai beberapa hari menjelang Lebaran. Ada tradisi yang bahkan sudah dimulai sejak setahun sebelumnya, yakni Andilan potong kebo.

Tradisi Andilan ini adalah patungan atau iuran bersama di antara beberapa orang untuk membeli seekor kerbau ata lebih yang kemudian disembelih menjelang Lebaran. Daging kerbau tersebut dibagikan kepada mereka yang ikut serta dalam iuran.

Bagi masyarakat Betawi tempo dulu, tradisi ini bukan sekadar soal mendapatkan daging saat hari raya. Andilan menjadi mekanisme sosial yang memungkinkan masyarakat saling membantu agar setiap keluarga tetap bisa merasakan kebahagiaan Lebaran.

Pada masa Batavia dahulu, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli daging. Oleh karena itu, masyarakat membangun sistem kolektif dengan cara menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Iuran biasanya dimulai jauh sebelum Lebaran tiba. Bahkan di beberapa kampung, masyarakat sudah mulai menabung sejak satu tahun sebelumnya.

Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, menjelaskan bahwa tradisi andilan potong kebo merupakan gambaran nyata dari karakter masyarakat Betawi yang sejak lama hidup dengan semangat kebersamaan. Menurutnya, masyarakat Betawi tumbuh dalam budaya kampung yang sangat menekankan solidaritas sosial.

“Orang Betawi itu dari dulu hidup dalam kultur kebersamaan. Kalau ada hajatan, ada musibah, atau menyambut hari besar seperti Lebaran, semuanya dilakukan secara kolektif. Andilan potong kebo adalah salah satu bentuknya,” kata KH Lutfi Hakim, yang juga Wakil Ketua PWNU Jakarta, saat berbincang-bincang dengan penulis belum lama ini.

Ia menilai tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat membangun sistem gotong royong untuk mengatasi keterbatasan ekonomi tanpa menghilangkan rasa kebersamaan dan semangat toleransi.

“Dulu tidak semua orang mampu beli daging. Tapi dengan andilan, semua orang bisa ikut menikmati secara proporsional. Ini cara masyarakat kita menjaga rasa keadilan sosial di tingkat kampung,” ujarnya.

Lebih lanjut Kyai Lutfi menjelaskan, dalam tradisi andilan, hewan yang dipilih biasanya adalah kerbau, bukan sapi. Pilihan ini memiliki makna yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Menurutnya, kerbau memiliki kedekatan historis dengan kehidupan masyarakat Betawi yang dahulu banyak berprofesi sebagai petani.

“Kerbau itu simbol kerja keras. Dia hewan yang kuat, sabar, dan sangat membantu petani di sawah. Karena itu dalam budaya Betawi, kerbau melambangkan ketekunan dan daya tahan hidup,” katanya.


Selain faktor historis, ada pula unsur toleransi sosial yang berkembang dalam masyarakat Betawi yang sejak lama hidup dalam lingkungan multikultural.

Menurut Kyai Lutfi, masyarakat Betawi memilih kerbau sebagai bentuk penghormatan terhadap umat agama lain lain yang memuliakan sapi.

“Ini menunjukkan bahwa sejak dulu orang Betawi sudah hidup berdampingan dengan berbagai komunitas. Tradisi ini juga mencerminkan nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh, Lutfi menilai andilan potong kebo tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan saat Lebaran. Tradisi ini juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat hubungan antar masyarakat.

Proses iuran yang dilakukan secara rutin membuat masyarakat saling bertemu dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika orang kumpul untuk andilan, di situ ada musyawarah, ada silaturahmi, ada kebersamaan. Jadi sebenarnya yang dijaga bukan hanya tradisinya, tetapi juga hubungan sosial antar masyarakat,” kata Kyai Lutfi.

Ia menilai nilai-nilai semacam itu semakin penting di tengah kehidupan masyarakat perkotaan yang semakin individual.

“Kalau tradisi ini hilang, kita bukan hanya kehilangan budaya, tapi juga kehilangan cara masyarakat menjaga persaudaraan,bagaimana orang tua dahulu, memulainya, lebaran masih jauh tapi mereka sudah pikirkan,” ujarnya.

Meski Jakarta terus berkembang menjadi kota metropolitan, tradisi andilan potong kebo masih bertahan di sejumlah kampung Betawi, terutama di wilayah penyangga ibu kota seperti Bogor, Depok, dan Bekasi.

Di kawasan Cisalak, misalnya, warga masih menjalankan tradisi ini hingga sekarang. Kerbau biasanya sudah dibeli jauh-jauh hari melalui sistem iuran bulanan warga. Pada kesempatan lainnya penulis berkesempatan mengunjungi kediaman almarhum Haji Suparta.

Siapa yang enggak kenal beliau, masih keturunan dari bapa tua bonteng yang merupakan orang tua di kawasan tersebut. Terkenal sebagai praktisi andilan sejak jaman dahulu.

Kini giat tersebut diteruskan oleh anak nya yang mengakomodir dana andilan di kawasan cisalak dan sekitarnya.

Dengan cara ini, ketika Lebaran tiba masyarakat tidak lagi terbebani untuk membeli daging.

“Iya kita masih patungan potong kebo. Jadi pas Lebaran sudah enggak mikirin lagi beli daging. Ya seperti orang nabung saja,” ujar Hj Marwiyah di Cisalak yang merupakan anak tertuanya.

Menurutnya, yang paling penting dari tradisi tersebut bukan sekadar daging yang dibagikan, tetapi nilai kebersamaan yang tetap terjaga.

“Nilai kebersamaannya yang enggak hilang. Bukan masalah uangnya, tapi esensinya itu silaturahmi dan pelestarian adat budaya leluhur kita,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini juga sempat diangkat kembali dalam kegiatan kebudayaan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Melalui kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, serta Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta bersama tokoh-tokoh Betawi, digelar kegiatan Andilan Potong Kebo untuk menyambut Idulfitri 1446 Hijriah.

Acara tersebut berlangsung pada 29 Maret 2025 di kawasan Agro Edukasi Wisata Ragunan. Dalam kegiatan itu, kerbau disembelih dan hasilnya dibagikan kepada mereka yang terlibat di dalamnya.

Bagi KH Lutfi Hakim, pengangkatan tradisi tersebut dalam kegiatan kebudayaan menjadi langkah penting untuk menjaga warisan budaya Betawi.

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni. Ini bagian dari identitas masyarakat Betawi yang mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial,” katanya.

Ia berharap generasi muda tetap mengenal dan melanjutkan tradisi tersebut.

“Budaya itu tidak boleh hanya dikenang, tapi harus terus dijalankan agar nilai-nilainya tetap hidup di tengah masyarakat, dan FBR punya perangkat yang bisa diterapkan hingga di tingkat wilayah” pungkas KH Lutfi Hakim.***

Penulis Kemal Maulana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

Ketua Umum FBR Imbau Warga Jaga Kondusifitas Jakarta di Tengah Aksi Demo

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta – Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, mengimbau masyarakat Betawi, khususnya anggota FBR, untuk menjaga kondusifitas Jakarta menyusul aksi unjuk rasa yang belakangan menyerukan pembubaran DPR. Menurut KH Lutfi, perbedaan pendapat politik adalah hal yang lumrah dalam kehidupan demokrasi, namun jangan sampai menimbulkan kerusuhan yang merugikan masyarakat luas. Ia menegaskan, Jakarta sebagai Ibu Kota harus tetap aman dan damai. “Kami minta seluruh masyarakat Betawi, terutama anggota FBR, untuk tidak mudah terprovokasi. Jakarta ini rumah kita bersama, jangan dirusak hanya karena perbedaan pandangan. Tugas kita menjaga keamanan, bukan menambah keributan,” ujar KH Lutfi Hakim dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (29/8/2025). Selain itu, FBR juga menekankan pentingnya menjaga fasilitas umum agar tidak menjadi korban aksi unjuk rasa. Kerusakan fasilitas, kata KH Lutfi, justru akan membebani masyarakat sendiri. “Aspirasi sila...

Fraksi PKB Jakarta dan Kaukus Muda Betawi Bahas Revisi Perda Budaya Betawi

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Upaya Kaukus Muda Betawi (KMB) dalam mendorong revisi Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi mendapat angin segar. Usni, menyampaikan bahwa pihaknya mendapat dukungan bahkan Fraksi PKB Jakarta dan Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PKB akan membersamai Kaukus Muda Betawi, M. Fuadi Luthfi selaku Ketua Fraksi PKB DKI Jakarta, akan menginisiasi pembahasan revisi perda tersebut saat audiensi di Gedung DPRD DKI Jakarta (7/8/2025).  “Alhamdulillah, kami telah menyampaikan rancangan usulan untuk revisi perda dan mendapat respon positif dari Ketua Fraksi PKB, M. Fuadi Luthfi, sekretaris Fraksi Yusuf, S.I.Kom, Bapak Heri Kuswanto Anggota Fraksi PKB dan Bapak Sutikno. M. Fuadi Luthfi, menyatakan kesiapannya untuk mengawal proses inisiasi revisi perda ini di DPRD,” dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/8/2025). Menurut Usni, revisi Perda Nomor 4 Tahun 2015 menjadi krusial karena sejumlah alasan mendasar. Salah satunya adalah ...