Langsung ke konten utama

Postingan

Kuliner Ikonik Lebaran di Betawi

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug, Rasulullah tidak pernah makan Ketupat, sayur godog, opor ayam atau semur daging kebo di hari Lebaran. Tapi leluhur kita secara sengaja menyembunyikan pesan-pesan beliau di dalam semua makanan tersebut. Kita memakannya setiap tahun tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik semua itu? Leluhur kita tidak punya mimbar megah. Tidak punya pengeras suara. Tidak punya platform digital. Tidak punya akun medsos. Namun mereka punya satu hal, yaitu kemampuan melihat bahwa manusia belajar bukan hanya lewat telinga, tapi dari tangan yang menganyam janur, lewat aroma santan dan daging kebo yang menguar dari dapur, lewat suapan pertama di pagi hari raya. Islam tidak datang dengan menghancurkan budaya, tapi menyusup ke dalam budaya pelan, dalam dan permanen. Sampai sekarang, kita masih menganyam ketupat, menuang sayur godok dan opor ayam, menyantap lahap semur daging kebo. Tanpa sadar kita sedang berdakwah di meja makan kita sendi...
Postingan terbaru

Lebaran Betawi: Heterenomi di Jakarta

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salah satu rangkaian Lebaran di Betawi (selanjutnya akan disebut dengan Lebaran Betawi) adalah Andilan Potong Kebo Lebaran. Pada hari Kamis, 19 Maret 2026 di Taman Kerempugan FBR Jakarta Timur, acara Andilan tersebut digelar secara kolaboratif antara Forum Betawi Rempug (FBR) sebagai refresentasi masyarakat Betawi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta dan Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta sebagai refresentasi ormas keagamaan bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.  Sementara orang tidak pernah menyangka bahwa acara Andilan tersebut adalah contoh nyata heterenomi di Jakarta, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang bersatu merayakan tradisi Betawi bersama. Heterenomi sendiri adalah konsep yang berasal dari filsafat politik dan sosial, yang berarti kemampuan masyarakat mengatur diri sendiri dan bekerja sama dalam keanekaragaman tanpa otoritas sentral. Menjadi relevan, Ketika Ketua PWNU Jakarta, KH Samsul Ma’arif, menyampaikan d...

Andilan Kebo Lebaran: Simbol Ketahanan Pangan dan Budaya

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA — Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, menegaskan bahwa tradisi andilan kebo merupakan wujud nyata solidaritas dan gotong royong masyarakat yang perlu terus dijaga dan dikembangkan. Menurut dia, tradisi ini berbeda dengan ibadah kurban, karena hanya peserta yang ikut patungan yang berhak menerima bagian daging. “Andilan itu berarti patungan. Kalau tidak ikut andilan, tidak akan mendapat bagian. Ini berbeda dengan kurban. Tapi banyak yang masih beranggapan Andilan itu sama seperti Kurban,” ujar Kyai Lutfi. Ia menambahkan, nilai utama dari andilan kebo adalah kebersamaan dan solidaritas yang bersifat universal, sekaligus mencerminkan kearifan lokal masyarakat Betawi. Pemilihan kerbau juga memiliki makna tenggang rasa, yakni bentuk penghormatan terhadap kelompok masyarakat tertentu. “Ini bagian dari cara kita menjaga harmoni dan menghargai perbedaan sejak dulu,” katanya. Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang tur...

FBR Gelar Andilan Potong Kebo Lebaran 2026 Serentak di Lima Wilayah Jakarta, Libatkan Unsur Keagamaan dan Pemerintah

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Forum Betawi Rempug (FBR) menggelar kegiatan Andilan Kebo Lebaran 2026 secara serentak di lima wilayah kota se-Jakarta pada Rabu, 18 Maret 2026. Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Betawi dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Pelaksanaan kegiatan diawali dari wilayah Jakarta Utara yang dipusatkan di Kampung Budaya Betawi Sukapura. Antusiasme warga dan anggota FBR terlihat tinggi dalam kegiatan yang sarat nilai gotong royong tersebut. Ketua Umum FBR, KH Lutfi Hakim, menjelaskan bahwa Andilan Kebo merupakan tradisi menghimpun dana secara kolektif atau patungan untuk membeli kerbau yang kemudian dibagikan secara proporsional kepada peserta andilan atau patungan. “Esensi dari andilan ini adalah kebersamaan dan kepedulian sosial. Dana yang terkumpul dari anggota-anggota FBR diwujudkan dalam bentuk kerbau untuk memenuhi kebutuhan daging di hari raya,” ujarnya di Perkampungan Budaya Betawi Sukapura, Rabu 18 Maret 2026. Kyai Lutfi me...

Andilan Kebo Lebaran: Ulama, Jawara, dan Pemerintah Untuk Jakarta

Oleh : KH. Lutfi Hakim (Imam Besar FBR) SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Gelaran Andilan Kebo Lebaran tahun ini memiliki nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Andilan Kebo, yang digelar secara kalaboratif oleh Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta, dan Forum Betawi Rempug (FBR), merupakan perpaduan antara ulama dan jawara. Kedua elemen ini telah lama menyumbangkan peradaban Jakarta dan ketahanan budayanya. Andilan Kebo sendiri adalah tradisi masyarakat Betawi yang bertujuan memperkuat kebersamaan, solidaritas dan soliditas di masyarakat. Dengan perpaduan ulama dan jawara, Andilan Kebo tahun ini diharapkan dapat memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan Betawi. Ulama berperan sebagai pemimpin spiritual, sementara jawara merupakan simbol kekuatan dan keberanian yang menjadi bagian dalam struktur sosial masyarakat Betawi. Jejaring tersebut telah terbentuk secara alami sejak dahulu. Andilan Kebo tahun ini akan menjadi lebih spesial dengan kehadiran...

Andilan Potong Kebo: Tradisi Sambut Lebaran Masyarakat Betawi

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Di sejumlah kampung Betawi, persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri tidak selalu dimulai beberapa hari menjelang Lebaran. Ada tradisi yang bahkan sudah dimulai sejak setahun sebelumnya, yakni Andilan potong kebo. Tradisi Andilan ini adalah patungan atau iuran bersama di antara beberapa orang untuk membeli seekor kerbau ata lebih yang kemudian disembelih menjelang Lebaran. Daging kerbau tersebut dibagikan kepada mereka yang ikut serta dalam iuran. Bagi masyarakat Betawi tempo dulu, tradisi ini bukan sekadar soal mendapatkan daging saat hari raya. Andilan menjadi mekanisme sosial yang memungkinkan masyarakat saling membantu agar setiap keluarga tetap bisa merasakan kebahagiaan Lebaran. Pada masa Batavia dahulu, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli daging. Oleh karena itu, masyarakat membangun sistem kolektif dengan cara menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Iuran biasanya dimulai jauh sebelum Lebaran tiba. Bahkan di bebera...

GUBERNUR BERWENANG MENERBITKAN PERATURAN GUBERNUR (PERGUB) PERIHAL KELEMBAGAAN ADAT(Legalitas Kelembagaan; Legitimasi Sosial)

Oleh: Mohammad Hisyam Rafsanjani SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA,  PERTAMA, Perihal Legalitas Kelembagaan Mekanisme Ketatanegaraan pada pokoknya diimplementasikan melalui Tata Kelola Administrasi Pemerintahan (good governance) berdasarkan Kewenangan, Prosedur, dan Substansi. Gubernur dideskripsikan sebagai Pejabat Administratif Pemerintahan dalam Pemerintahan Daerah yang mewakili Pemerintahan Pusat. Sumber Kewenangan yang melekat pada Pejabat Administratif Pemerintahan diantaranya bersumber dari Atribusi, Delegasi, dan Mandat. Kewenangan Gubernur menerbitkan Pergub Kelembagaan Adat bersumber dari Kewenangan Delegasi dan/atau dapat disebut sebagai Diskresi (freies ermessen) yang terukur berdasar AUPB, yakni diantaranya bersumber berdasarkan UU DKI Jakarta, UU Pemajuan Kebudayaan, UU Pemerintahan Daerah, UU Administrasi Pemerintahan, UU Cipta Kerja, Permendagri, dll. Sementara itu, struktur ketatanegaraan Kelembagaan Adat yang dibentuk melalui Pergub berbeda dengan Kelembagaa...