Oleh: KH. Lutfi Hakim SUARAKAUMBETAWI | Setiap perayaan Idul Fitri, kita pasti mengadakan tradisi "Halal Bihalal" di kantor, kampung hingga keluarga. Namun hari ini kita mengenal Halal Bihalal sebagai acara sungkeman, makan ketupat bersama, dan foto-foto di kantor atau kampung setelah Lebaran. Terasa begitu biasa, di mana meminta maaf hanya sekadar tradisi bukan lahir dari kesadaran diri tentang urgensi menjaga harmoni. Padahal tradisi ini lahir bukan dari langgar, pesantren atau buku-buku agama, melainkan dari ruang paling menegangkan dalam sejarah Indonesia, Istana Yogyakarta, tahun 1948. Terjadinya polarisasi yang tajam dan mengancam terjadinya disintegrasi bangsa. Waktu itu Indonesia baru tiga tahun merdeka, tapi sudah nyaris pecah. September 1948, PKI memberontak di Madiun. Di Jawa Barat, Kartosoewirjo memproklamasikan Darul Islam. Para pemimpin politik saling curiga, parlemen gaduh, tentara terbelah. Soekarno melihat, yang retak bukan hanya kabinet, melaink...
SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug, setelah Ramadhan berakhir, biasanya masyarakat Indonesia mengisi kegiatan Idul Fitri salah satunya dengan Halal Bihalal, tidak terkecuali masyarakat Betawi. Oleh karena itu, Forum Betawi Rempug (FBR) sebagai organisasi yang berbasis kearifan lokal Betawi menjadikan Halal Bihalal sebagai kegiatan rutin tahunan dalam merayakan Idul Fitri. Halal Bihalal FBR tidak terkonsentrasi di satu titik lokasi, melainkan diselenggarakan di setiap Koordinator Wilayah (Korwil) FBR se-Jabodetabek berdasarkan jadwal yang disepakati. Imam Besar FBR, KH Lutfi Hakim, selalu pimpinan pusat FBR berikut jajarannya berkeliling ke masing-masing Korwil tersebut untuk bersilaturrahmi selama hampir 2 (dua) minggu. Istilah Halal Bihalal terdengar seperti bahasa Arab murni, namun kenyataannya ini adalah konstruksi linguistik khas masyarakat Indonesia. Secara etimologis, kata ini berasal dari kata halal yang disisipi huruf ba (bi) yang berarti “dengan”. Makna...