-------- Robi Nurhadi, PhD Dosen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Nasional --------- SUARAKAUMBETAWI | Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, King Khalid International Airport di Riyadh diserang rudal yang menewaskan 12 orang dan melukai 309 orang, termasuk warga asing dari Amerika, Bangladesh, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan (BusinessWorld Online, 2026). Serangan ini adalah yang ketiga dalam seminggu dan disebut sebagai serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade (Le Monde, 2026). Serangan ini terjadi seminggu setelah koalisi pimpinan Saudi mengumumkan operasi udara "Operation Dawn of Yemen" pada 5 Oktober 2026 untuk mendukung pemerintah Yaman (Le Monde, 2026). Konteks inilah yang membuat konflik Yaman meluber menjadi krisis keamanan Teluk. Peta Polarisasi: Dua Blok Baru Analisis ini membagi dukungan menjadi dua blok utama: Pertama, Blok Arab Saudi - Pakta Mekah (Makkah Alliance) Pakta Pertahanan Bersama Mekah yang ditandat...
Dr. Robi Nurhadi Dosen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Nasional E: robinurhadi@yahoo.co.id SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, - Dalam satu dekade terakhir, hubungan Indonesia-Cina telah bertransformasi dari sekadar hubungan dagang menjadi kemitraan ekonomi-politik yang paling menentukan bagi masa depan Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, Cina hari ini adalah mitra dagang terbesar, investor terbesar kedua, dan kontraktor utama proyek-proyek strategis nasional. Namun untuk memahami Cina di Indonesia, kita tidak cukup hanya melihat angka investasi. Kita harus memahami logika besar politik ekonomi Cina. Arah politik ekonomi Cina di Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari grand strategy Beijing yang disebut Belt and Road Initiative (BRI) dan doktrin "Two Circulation" (Li & Li, 2024; Ye, 2020). Bagi Beijing, Indonesia adalah simpul terpenting di Asia Tenggara karena tiga alasan: sebagai sumber bahan mentah kritis untuk transisi energi Cina, sebagai pasar bag...