Langsung ke konten utama

MUI Jakarta: Perlu Adanya Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mengatasi Tawuran Remaja

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, 2 Oktober 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta melalui Bidang Pengkajian dan Penelitian menyelenggarakan Workshop Pencegahan Tawuran Remaja Berbasis Nilai Keagamaan di El Hotel Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (2/10).

Kegiatan ini mengusung tema “Membangun Generasi Muda Jakarta yang Damai, Bermartabat, dan Berkarakter” dengan tujuan membekali para peserta, khususnya kalangan remaja dan pendidik, agar mampu memahami pentingnya peran nilai keagamaan dalam mencegah terjadinya tawuran remaja.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga, di antaranya:
- Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, M.A. (MUI Pusat) yang membawakan materi “Peran MUI dalam Membina Moral Remaja dan Mencegah Tawuran”.
- Irjen. Pol. Asep Edi Suheri, S.I.K., M.Si (Kapolda Metro Jaya) yang diwakili AKBP Jajang Hasan Basri, S.Ag., M.Si dengan materi “Strategi Aparat Penegak Hukum dalam Pencegahan Tawuran Remaja”.
- Muhammad Matsani, M.Si (Kesbangpol DKI Jakarta), diwakili oleh Yuda Candra Wahyudi, dengan materi “Peran Pemerintah Daerah dalam Pembinaan dan Pengawasan Remaja”.
- Nurul Hasanudin, SST., M.Stat (BPS DKI Jakarta) dengan materi “Data Statistik dan Analisis Tren Tawuran Remaja di Jakarta”.

Para narasumber menegaskan bahwa persoalan tawuran remaja tidak bisa dipandang sebelah mata, karena selain mengakibatkan korban jiwa dan kerugian sosial, juga mengganggu stabilitas keamanan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk mencari solusi yang efektif.
L
Ketua MUI DKI Jakarta dalam sambutannya menekankan bahwa pembinaan moral berbasis keagamaan merupakan kunci utama dalam menanamkan karakter positif bagi generasi muda. bahwa pembangunan bangsa harus berjalan seimbang antara aspek fisik dan spiritual.MUI memiliki perhatian besar terhadap pembangunan mental-spiritual bangsa. Seringkali pembangunan fisik dan materi lebih maju, sementara pembangunan jiwa tertinggal. Jangan sampai negara kita ibarat rumah sakit yang memiliki gedung megah dan dokter hebat, tetapi di dalamnya penuh dengan penyakit. Kita tentu tidak ingin tinggal di dalamnya,” tegas Ketua MUI DKI Jakarta.
Sementara itu, aparat penegak hukum menjelaskan bahwa tren tawuran remaja saat ini mengalami perubahan pola. Tawuran tidak lagi terjadi secara spontan, tetapi mulai terorganisir layaknya memiliki “penggerak” atau aktor tertentu yang memicu. Media sosial juga disebut memiliki pengaruh besar dalam mempercepat proses terjadinya tawuran, baik melalui provokasi, tantangan terbuka, maupun penyebaran konten yang mendorong aksi kekerasan di kalangan remaja.
BPS DKI Jakarta turut menyoroti tren peningkatan kasus tawuran di beberapa wilayah Jakarta yang dipicu faktor sosial-ekonomi, lemahnya kontrol sosial, hingga perkembangan teknologi informasi yang sering digunakan untuk memprovokasi. Data ini menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pencegahan yang lebih tepat sasaran.
Workshop ini juga menampilkan materi dari MUI, yang menekankan peran strategis lembaga keagamaan dalam membina moral generasi muda. Dalam paparannya, MUI menjelaskan bahwa pembinaan akhlak berbasis nilai keagamaan menjadi salah satu kunci dalam mencegah tawuran remaja. Melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat, MUI berkomitmen untuk terus hadir mendampingi masyarakat dalam menanamkan karakter yang damai, moderat, dan berakhlak mulia pada kalangan remaja.
Workshop yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan, termasuk remaja, pendidik, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait. Dari diskusi yang berkembang, muncul sejumlah langkah preventif yang dapat diambil untuk mencegah tawuran remaja.

Melalui kegiatan ini, MUI DKI Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam membina generasi muda agar terhindar dari perilaku destruktif. Sinergi antara MUI, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan lembaga terkait diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, aman, dan damai bagi masyarakat Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...