Langsung ke konten utama

FBR Tegaskan Perjuangan Bukan untuk Jabatan, Tolak Kursi Dewan Adat Betawi

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, SPN — Forum Betawi Rempug (FBR) secara resmi menyatakan tidak bersedia menempatkan perwakilannya sebagai pengurus maupun anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan (LAK) Betawi. Sikap tersebut disampaikan melalui surat pernyataan organisasi yang dibacakan Sekretaris Jenderal FBR, Ustadz Daniel al-Haz, di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Pernyataan itu menjadi respons atas pengukuhan Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta. Dalam pengukuhan tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dipercaya memimpin Dewan Adat bersama jajaran tokoh, ulama, budayawan, dan sesepuh Betawi sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta.

Surat FBR yang ditujukan kepada Gubernur Pramono Anung diawali dengan penyampaian penghormatan dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada organisasi untuk menjadi bagian dari struktur Dewan Adat LAK Betawi. Namun, setelah melalui pembahasan dan pertimbangan kelembagaan, FBR memutuskan tidak menempatkan wakilnya dalam kepengurusan.

“Sikap ini bukan bentuk penolakan terhadap lembaga maupun ikhtiar pelestarian adat Betawi, melainkan pilihan kelembagaan yang berangkat dari prinsip perjuangan FBR,” ujar Daniel saat membacakan surat pernyataan.

Daniel menegaskan keputusan tersebut lahir dari komitmen organisasi untuk menjaga hubungan baik antarelemen Betawi sekaligus mempertahankan independensi FBR dalam mengabdi kepada masyarakat.

“Bagi FBR, perjuangan menjaga marwah, identitas, dan keberlangsungan Betawi bukan untuk mencari jabatan atau kedudukan, melainkan murni sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengabdian bagi kepentingan masyarakat Betawi secara keseluruhan,” tegasnya.

Menurut FBR, perjuangan melestarikan adat dan budaya Betawi tidak ditentukan oleh keberadaan dalam struktur formal sebuah lembaga. Organisasi meyakini kontribusi nyata kepada masyarakat jauh lebih penting dibandingkan posisi kelembagaan.

“Keberhasilan menjaga eksistensi adat dan identitas Betawi tidak ditentukan oleh kedudukan formal dalam sebuah lembaga, melainkan oleh ketulusan, konsistensi, dan kerja nyata yang diberikan kepada masyarakat,” lanjut Daniel mengutip isi surat.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya, Gubernur Pramono Anung mengukuhkan Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Pengukuhan tersebut menandai selesainya penataan kelembagaan adat Betawi yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian berbagai organisasi dan tokoh masyarakat Betawi, surat untuk menempatkan perwakilan FBR dalam lembaga tersebut pun telah diterima FBR sebelum pengukuhan.

Pramono menyebut pembentukan Dewan Adat bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan langkah strategis memperkuat budaya Betawi sebagai identitas Jakarta menjelang peringatan 500 tahun kota pada 2027. Sementara itu, Fauzi Bowo mengajak seluruh elemen Betawi menjadikan Dewan Adat sebagai rumah bersama dalam menjaga nilai, tradisi, dan jati diri Betawi.

Meski menolak bergabung dalam kepengurusan, FBR menegaskan tetap berkomitmen mendukung setiap langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pelestarian, pengembangan, dan pemajuan kebudayaan Betawi sesuai amanat peraturan perundang-undangan.

Di akhir pernyataannya, FBR mengajak pemerintah, tokoh adat, organisasi masyarakat, serta generasi muda Betawi untuk memperkuat persatuan dan menjadikan kepentingan besar masyarakat Betawi sebagai landasan utama dalam membangun Jakarta yang maju tanpa kehilangan jati dirinya. 

Daniel al-Haz, menambahkan surat ini juga akan disampaikan secara langsung ke Balaikota DKI Jakarta, dengan dikawal seribu anggota FBR.

Surat fisik akan dilayangkan langsung ke balaikota dengan dikawal seribu anggota FBR, Masing-masing perwakilan Korwil-korwil di 5 Wilayah dibatasi 200 orang, jadi total sekitar 1000 orang yang akan mengantarkan surat ini," tandasnya. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketum FBR Serukan Geruduk Trans7 dan Tuntut Permohonan Maaf

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA – Media sosial kembali diramaikan dengan tagar #BoikotTrans7, yang mendadak viral pada Selasa pagi, 14 Oktober 2025. Tagar tersebut muncul menyusul tayangan program Xpose Uncensored milik Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan di salah satu pondok pesantren ternama, Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Potongan video dari acara itu dinilai provokatif dan menuai kecaman dari warganet, khususnya kalangan santri dan alumni pesantren. Tayangan tersebut dianggap bersifat stereotip, agitatif, dan berpotensi merusak citra ulama tradisional. Ketua Umum FBR sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menyesalkan tayangan tersebut.  "Tidak hanya membahayakan citra seorang ulama tradisional, tetapi juga melecehkan kehidupan pesantren di Indonesia. Nilai-nilai Aswaja yang menekankan tazim dan adab terhadap ulama harus dihormati," ujar Lutfi Hakim dalam keterangan resminya, Selasa 14 Oktober 2025. Menurutnya, media massa memiliki tanggung j...

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...