Langsung ke konten utama

Perkuat Syiar dan Kerukunan Menuju Jakarta Kota Global, MUI Jakarta Gelar Festival Seni Budaya Islam

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta menggelar Festival Seni Budaya Islam 2026 di Aula Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (6/9/2026). Festival yang memasuki penyelenggaraan kedua ini mempertemukan peserta dari lima wilayah DKI Jakarta melalui perlombaan hadroh, qasidah, Maulid Barzanji, dan mewarnai kaligrafi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) Provinsi DKI Jakarta, Muhammad Matsani. Acara diawali dengan doa yang dipimpin Ketua Bidang Seni Budaya MUI DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, serta dihadiri Wakil Ketua MUI DKI Jakarta sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta, KH Yusuf Aman, dan Pimpinan Pondok Pesantren Al Hamid, KH Lukman Hakim Hamid.

Dalam sambutannya, Muhammad Matsani menegaskan bahwa keberagaman masyarakat Jakarta merupakan kekuatan yang harus dirawat melalui seni dan budaya.

“Jakarta sebagai kota global dihuni masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Jangan jadikan perbedaan sebagai pemisah, tetapi jadikan itu sebagai kekuatan. Seni dan budaya memiliki posisi strategis sebagai bahasa bersama untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung penuh kolaborasi MUI, ulama, seniman, budayawan, dan masyarakat dalam menghadirkan kegiatan yang memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus memperkaya kebudayaan Jakarta menuju usia lima abad.

Wakil Ketua MUI DKI Jakarta, KH Yusuf Aman, mengatakan Festival Seni Budaya Islam menjadi sarana dakwah yang mampu mempererat persaudaraan dan menjaga kerukunan umat di tengah kemajemukan Jakarta.

“Melalui seni budaya Islam, kita memperkuat syiar, membina generasi muda, dan merawat kerukunan umat beragama di Jakarta,” kata Yusuf Aman yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta.

Ketua Panitia, KH Fahmi Ali Faisol, menjelaskan festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua dengan peserta dari lima wilayah DKI Jakarta.

“Kami mempertandingkan tiga cabang utama, yaitu mewarnai kaligrafi untuk anak usia 7–9 tahun, qasidah kategori wanita dewasa, dan hadroh kategori pria dewasa,” jelas Fahmi.

Menurut dia, para pemenang akan memperebutkan piala, uang pembinaan, hadiah umrah, serta voucher kursus Bahasa Inggris.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pimpinan Pondok Pesantren Al Hamid atas dukungan penuh sehingga festival ini dapat terselenggara dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hamid, KH Lukman Hakim Hamid, mengatakan pihaknya sengaja membuka seluruh fasilitas pesantren sebagai bentuk penghormatan kepada MUI dsn Provinsi DKI DKI Jakarta yang terus aktif mengembangkan program keumatan dan kebudayaan.

“Meski hari libur, kami meminta kepala sekolah dan seluruh jajaran pondok pesantren tetap masuk seperti biasa agar Festival Seni Budaya Islam ini berjalan dengan sebaik-baiknya,” ungkap KH Lukman.

Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana aula dipenuhi lantunan hadroh, pembacaan Maulid Barzanji, qasidah kaum ibu, serta puluhan anak yang antusias mengikuti lomba mewarnai kaligrafi. Seluruh cabang perlombaan mulai dipertandingkan sejak pagi dalam suasana religius, meriah, dan penuh kebersamaan. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Oleh : KH Lutfi Hakim SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug. Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/4/2026) mendatang. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarwarga Jakarta lewat seni, tradisi, dan cita rasa. Pilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi acara sangat tepat karena memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna. Pada masa kolonial Belanda, lapangan tersebut dikenal sebagai _Waterlooplein_ (Lapangan Waterloo) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 untuk memperingati kemenangan Belanda atas Napoleon di Waterloo pada 1815.  Pada 1828, Belanda mendirikan tugu patung singa di tengahnya sebagai simbol kemenangan tersebut, sehingga tempat itu populer disebut Lapangan Singa. Pada masa kemerdekaan, Presiden Soekarno mengubah namanya menjadi Lapangan Banteng. Ikon utamanya kini adalah M...