Langsung ke konten utama

FBR Harap Royal Batavia Jadi Simbol Kebangkitan di Timur Jakarta


SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, (25/8) – Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH Lutfi Hakim, menyambut positif rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membangun Rumah Sakit Royal Batavia Cakung. Menurutnya, pembangunan rumah sakit berstandar internasional tersebut bukan hanya soal fasilitas kesehatan, melainkan simbol kebangkitan kawasan timur Jakarta.

“Cakung punya sejarah panjang, dari masa kolonial sampai industri modern. Dulu orang Jakarta Timur menyebut kawasan tengah sebagai udik karena pusat pemerintahan ada di Jatinegara. Sekarang justru Jakarta Timur yang menjadi pusat pembangunan baru. Kehadiran Royal Batavia ini bukan sekadar rumah sakit, tapi simbol kebangkitan peradaban di tanah timur,” kata Lutfi, Senin (25/8).

Rumah Sakit Royal Batavia akan dibangun di atas lahan 1,9 hektare dengan kapasitas 282 kamar rawat inap. Gedung 13 lantai ini ditargetkan mulai dibangun pada 2026–2027 dan beroperasi pada 2028.

Selain rumah sakit, Pemprov DKI juga akan membangun Masjid Raya dan SMA Negeri di kawasan yang sama. Seluruh fasilitas tersebut akan terintegrasi dengan Rusun Cakung Barat, menghadirkan konsep perkotaan baru yang menggabungkan kesehatan, pendidikan, spiritualitas, dan perumahan dalam satu kawasan.

Cakung dikenal luas sebagai kawasan industri dan permukiman padat. Namun dalam catatan sejarah, wilayah ini sejak lama menjadi simpul penting di timur Batavia. Dalam tradisi lisan Betawi, Cakung diyakini sudah menjadi jalur singgah sejak masa Kerajaan Salakanagara pada abad ke-2 Masehi, kerajaan awal di Jawa Barat yang tercatat dalam naskah Bujangga Manik dan catatan Dinasti Tang.

Pada abad ke-16, pelaut Portugis dan Spanyol yang singgah lewat rute Manila–Maluku sempat mendirikan hospital misi sederhana di kawasan timur Batavia. Belanda kemudian memperkuat pengaruhnya dengan menjadikan Meester Cornelis (kini Jatinegara) sebagai pusat militer timur. Dari sana, jalur logistik menuju Bekasi dan Karawang melewati Cakung. Karena strategis, Belanda mendirikan rumah sakit lapangan bagi prajurit dan pekerja perkebunan.

Memasuki abad ke-20, wajah Cakung berubah menjadi kawasan industri modern. Pemerintah mendirikan RSUD untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat. Namun bagi warga, RSUD identik dengan antrean panjang dan layanan terbatas.

Kini, dengan pembangunan Royal Batavia, Pemprov DKI ingin mengubah narasi itu.

Menurut KH Lutfi Hakim, pembangunan fasilitas kesehatan modern di Cakung menegaskan pengembalian stigma lama. Istilah udik, yang dulu digunakan warga Jakarta Timur untuk menyebut kawasan tengah. karena pusat pemerintahan kala itu ada di Jatinegara, 

Bahkan, ada bendungan bernama Latuharhary yang lebih dikenal dengan sebutan Bendungan Udik, menandakan perbedaan antara pusat kota dan wilayah timur yang kala itu dianggap kampung. 

“Sekarang melalui pembangunan ini, seperti mengembalikan Cakung ke posisi original. Daerah yang di abad 20 menjadi kawasan pinggiran, kini dikembalikan ke aslinya,” ujar Lutfi.

Ia kembali menegaskan, kehadiran Royal Batavia, Masjid Raya, dan SMA Negeri akan membawa Cakung kembali ke perannya sebagai simpul peradaban Jakarta Timur.

 “Sejarah membuktikan, dari Salakanagara, kolonial Belanda, hingga RSUD modern, Cakung selalu punya posisi penting. Kini, Cakung kembali mengambil peran sebagai episentrum baru,” tambahnya.

Dengan pembangunan ini, Pemprov DKI berharap Jakarta Timur tidak lagi dipandang sebagai pinggiran, melainkan jantung baru Batavia Global yang menggabungkan kesehatan, pendidikan, spiritualitas, dan sejarah dalam satu lanskap kota. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 24 TAHUN FBR: DARI TUDUHAN NORAK DAN PENUH ANCAMAN, MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARKAUMBETAWI | JAKARTA,- Salam rempug, dua puluh empat tahun sudah Forum Betawi Rempug (FBR) hadir di tengah masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sebuah perjalanan panjang bagi sebuah organisasi massa yang lahir dari semangat kebudayaan, identitas, dan solidaritas msayarakat Betawi. Meski tak luput dari kritik, kontroversi, bahkan upaya pembubaran, FBR tetap bertahan—terus tumbuh dan meluas hingga ke luar wilayah Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi lintas batas dalam barisan kerempugan. Di saat banyak ormas dituding meniru gaya militer atau menampilkan wajah represif, FBR memilih jalur berbeda: jalur budaya dan kedaerahan. Gaya khas lokal Betawi dengan keluguan, kelugasan dan kesederhanaannya, yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru menjadi ciri khas yang membedakan FBR dari organisasi lain. Gaya ini pula yang menjadikannya dekat dengan rakyat, bukan dengan kekuasaan. Tidak bisa dipungkiri, perjalanan FBR memang tidak selalu mulus. Ada masa ketika cit...

Premanisme Jalanan Dibasmi, Premanisme Berdasi Dibiarkan?

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, – Upaya aparat keamanan dalam menertibkan premanisme jalanan di berbagai sudut Jakarta mendapat apresiasi publik. Ketertiban memang bagian dari hak dasar warga negara. Pasar yang bersih dari pungli, terminal yang aman dari ancaman geng lokal, dan ruang publik yang bebas dari intimidasi adalah hal mendasar dalam kehidupan kota yang beradab. Namun, ketika aparat dengan sigap menangkap pelaku pungli di pasar, menyisir kawasan rawan, dan menertibkan lapak-lapak liar, muncul satu pertanyaan tajam dari benak masyarakat: mengapa negara terlihat begitu tegas kepada preman kecil di jalanan, namun begitu pelan—bahkan gamang—dalam menghadapi premanisme berdasi yang merampok uang negara secara sistemik? Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Di tengah publikasi besar-besaran mengenai razia preman jalanan, masyarakat justru melihat bayang-bayang lain yang tak kalah menyeramkan: korupsi berjamaah di balik proyek-proyek negara, kartel tambang, permainan anggaran sos...

Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Difasilitasi Mobil Mewah Pakai Dana Umat

SUARAKAUMBETAWI | Jakarta, - Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) Kyai Lutfi Hakim turut angkat bicara terkait komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta diguyur Innova Zenix. “Seharusnya, dana atau cuan pembelian 5 unit Innova Zenix itu dikembalikan ke umat. Karena itu bersumber dari dana umat Islam,” ujar Kyai Lutfi Hakim yang merupakan Imam Besar FBR ini, Kamis (17/7/2025). Dijelaskannya, tidak ada aturan ataupun hak bagi para Komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta untuk mempergunakan dana umat untuk mendapatkan fasiltas wah, apalagi kepentingan pribadi. “Mestinya dibelikan untuk yang bermanfaat bagi umat, misalnya membeli ambulance, membiayai fasilitas kesehatan atau pendidikan dan lain - lain, tidak untuk fasilitas komisioner,” tegasnya. Dikabarkan, lima komisioner BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta sedang dilanda isu tidak sedap, yakni dugaan skandal gratifikasi berupa lima unit Toyota Innova Zenix. Hal ini pun menjadi perbincangan hangat publik, tokoh, aktivis dan penggiat Ibu Ko...