Langsung ke konten utama

NYABA GIRANG: DARI SILATURAHMI MENUJU KOLABORASI, DARI KEBERDAYAAN MENUJU PERADABAN

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Ketua Umum PeciMerah, H. Ahmad Basuni, bersilaturahmi dengan Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH. Lutfi Hakim.

Pertemuan yang dikemas dalam semangat Nyaba Girang ini menjadi ruang bincang santai, bertukar pikiran, dan menyamakan pandangan tentang satu cita-cita besar: bagaimana masyarakat Betawi dapat semakin berdaya dan memberikan manfaat lebih luas bagi warga serta Kota Jakarta.

Tidak ada sekat organisasi, tidak ada pembicaraan tentang siapa yang lebih besar. Yang hadir adalah semangat persaudaraan, kesadaran sejarah, dan keinginan untuk merawat tanah kelahiran bersama.

Dari perbincangan tersebut, mengemuka ikhtiar untuk membangun tim bersama yang akan merumuskan gerakan pemberdayaan masyarakat Betawi. Mulai dari penguatan kampung Betawi, pelestarian adat dan budaya, pengembangan ekonomi masyarakat, regenerasi generasi muda, hingga gagasan Pager Adat Betawi sebagai bagian dari upaya merawat nilai-nilai luhur dan tatanan kehidupan masyarakat.

Sebab, Betawi bukan hanya tentang identitas dan kebanggaan sejarah. Betawi juga tentang tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan membangun kota yang menjadi rumah bersama.

Kita boleh berbeda organisasi, berbeda jalan pengabdian, dan memiliki cara masing-masing dalam berkhidmat. Namun, untuk kepentingan masyarakat dan masa depan Jakarta, semangat gotong royong harus tetap menjadi jembatan persaudaraan.

Sebab, kampung yang kuat lahir dari masyarakat yang rukun. Masyarakat yang berdaya tumbuh dari kebersamaan. Dan kota yang berperadaban dibangun oleh warganya yang saling menghormati dan saling menguatkan.

Harapan kami silaturahmi ini menjadi awal dari ikhtiar yang lebih besar. Bukan sekadar mempertemukan para tokoh, tetapi mempertemukan gagasan, menyatukan langkah, dan melahirkan karya nyata bagi masyarakat.

Betawi punya akar sejarah, punya kekayaan budaya, dan punya tanggung jawab masa depan. Mari bergotong royong untuk warga, untuk kampung, dan untuk Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENYONGSONG 25 TAHUN FBR: DARI STIGMA "NORAK" MENUJU PILAR BUDAYA BETAWI

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa. Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan. ** Refleksi dan Transformasi ** Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak se...

Pengukuhan MUI Pusat Berlangsung Khidmat, FBR Ikut Berpartisipasi dalam Pengamanan

SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA - Forum Betawi Rempug (FBR) turut berpartisipasi dalam pengamanan pengukuhan dan perkenalan (ta’aruf) Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu pagi. Acara tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa.” Acara ini turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Presiden Prabowo tampak langsung menghampiri jajaran pimpinan MUI dan menyalami mereka satu per satu usai prosesi pengukuhan. Di barisan depan, bersama para pimpinan MUI, turut hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sejumlah menteri kabinet, tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, serta tamu undangan lainnya. Ketua Umum FBR KH Lutfi Hakim mengatakan, keterlibatan FBR dalam pengamanan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen organisasi dalam menjaga ketertiban dan menghormati peran ulama sebagai penjaga moral bangsa. “FBR hadir untuk membantu pe...

Halal Bihalal Lapangan Banteng: Membangun Kebersamaan di Hari Lebaran

Oleh : KH Lutfi Hakim SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Salam rempug. Pemprov DKI Jakarta berencana mengadakan acara Halal Bihalal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/4/2026) mendatang. Acara ini merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dan diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan antarwarga Jakarta lewat seni, tradisi, dan cita rasa. Pilihan Lapangan Banteng sebagai lokasi acara sangat tepat karena memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna. Pada masa kolonial Belanda, lapangan tersebut dikenal sebagai _Waterlooplein_ (Lapangan Waterloo) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada awal abad ke-19 untuk memperingati kemenangan Belanda atas Napoleon di Waterloo pada 1815.  Pada 1828, Belanda mendirikan tugu patung singa di tengahnya sebagai simbol kemenangan tersebut, sehingga tempat itu populer disebut Lapangan Singa. Pada masa kemerdekaan, Presiden Soekarno mengubah namanya menjadi Lapangan Banteng. Ikon utamanya kini adalah M...