SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka statistik bagi Forum Betawi Rempug (FBR). Ia adalah saksi bisu metamorfosis sebuah entitas yang lahir dari rahim keresahan identitas di jantung ibu kota. Dari sebuah organisasi massa yang kerap dipandang sebelah mata, kini FBR berdiri sebagai pilar kebudayaan yang melintasi batas administratif Jakarta, menyatukan masyarakat Betawi dalam satu barisan kerempugan yang kian dewasa.
Di tengah tren ormas yang gemar bersolek dengan gaya paramiliter atau menampilkan wajah represif, FBR konsisten menempuh jalan sunyi, jalur kebudayaan. Keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan khas Betawi yang sempat dicibir “norak” pada awal kemunculannya, justru kini menjadi antitesis bagi organisasi lain yang kaku. Gaya inilah yang menjaga FBR tetap membumi, lebih dekat dengan napas rakyat kecil ketimbang dengan koridor kekuasaan.
**Refleksi dan Transformasi**
Kita tak boleh menutup mata pada sejarah. Perjalanan FBR memang tak selalu mulus. Memori publik mungkin masih menyimpan rekam jejak gesekan horizontal di masa lalu. Namun, sejarah adalah guru terbaik. FBR membuktikan dirinya bukan ormas "karbitan" yang hanya bergerak karena dorongan proyek atau emosi sesaat. Kritik publik dijawab dengan pergeseran paradigma dari otot menuju otak, dari konfrontasi menuju advokasi.
Pesan pendiri FBR, KH Ahmad Fadloli el Muhir, belasan tahun silam di Kota Tua kini menemukan bentuknya: "Lihat nanti, FBR bakal jadi apa ke depan. Orang bakal tahu apa itu FBR." Keyakinan itu mewujud dalam upaya memosisikan kaum Betawi sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penonton di tanah kelahirannya sendiri.
**Kepemimpinan Intelektual**
Di bawah nakhoda KH Lutfi Hakim, FBR tampil dengan wajah yang lebih subtil dan strategis. Sebagai intelektual lulusan IAIN Syarif Hidayatullah, ia membawa spirit "Islam Transformatif" ke dalam tubuh organisasi. Pendekatan fisik kian ditinggalkan, berganti dengan langkah-langkah sistematis dalam memperjuangkan akses pendidikan, teknologi, dan kebijakan publik.
KH Lutfi bukan sekadar pemimpin struktural; ia adalah diplomat budaya. Keberhasilannya memperjuangkan frasa “lembaga adat” masuk ke dalam Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta (UU DKJ) bersama Kaukus Muda Betawi adalah capaian monumental. Setelah hampir lima abad tanpa pengakuan formal negara terhadap lembaga keadatan, kini masyarakat Betawi memiliki payung hukum untuk menjaga eksistensinya di tengah arus globalisasi.
**Menjemput Takdir Baru**
Transformasi ini kian nyata melalui berbagai inisiatif akar rumput, mulai dari program Jaga Kampung, pengajian, hingga pelestarian Golok Cakung sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). FBR kini berfungsi sebagai inkubator sosial yang bergerak mandiri tanpa harus menggantungkan diri pada dana hibah, sebuah kemandirian yang patut diapresiasi di tengah pragmatisme organisasi modern.
Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Seiring transformasi Jakarta menjadi kota global, tantangan yang dihadapi kaum Betawi pun ikut mengglobal. Sebagaimana tema Milad ke-23, “Menjemput Takdir Baru Kaum Betawi”, regenerasi menjadi harga mati. FBR harus melahirkan generasi yang fasih dengan teknologi namun tetap teguh memegang sanad perjuangan ulama.
Sebagai penutup, menjelang usia perak, FBR telah bermetamorfosis dari sekadar wadah "Akamsi" (Anak Kampung Sini) menjadi organisasi yang adaptif dan visioner. Mengambil inspirasi dari semangat para sahabat Nabi sebagaimana yang sering dikisahkan KH Zainuddin MZ, FBR diharapkan terus menjadi sosok "Umar" bagi Betawi, tegas dan berani dalam menjaga marwah, namun lembut dan tulus dalam mengayomi rakyat.
Dua puluh lima tahun perjalanan ini adalah tentang merawat akar sambil merajut masa depan. Teruslah menjadi oase di tengah hiruk-pikuk perubahan kota, menjaga harmoni sosial, dan memastikan bahwa suara kerempugan tetap bergema sebagai identitas yang mulia. Wallahu a’lam.
Mantap Kyai, Maju terus FBR✊🏻
BalasHapus